Sunday, December 8, 2013

Sang Juara

Meskipun laporan manggil, tapi cerita ini udah teriak-teriak diotak dan minta ditulis. Selamat membaca J

Saya mulai bertemu dengan tempat ini sekitar bulan Maret. Belum cukup lama mengenal tempat ini. Namun, disini, saya merasakan semangat dari mereka. Doa yang dipanjatkan menunjukkan kesungguhan dari diri mereka semua. Saya merasakan secercah cahaya di masa depan yang ada ditangan mereka. Pabuaran, Sanggar Juara, merupakan kombinasi yang saling melengkapi kebutuhan mereka. Di tempat ini, anak-anak belajar mengenai agama Islam, mungkin kita biasa mengenal dengan TPA (taman pendidikan al-qur’an), terkecuali hari Sabtu, Sanggar Juara datang mencoba berbagi ilmu, berbagi cerita, berbagi mimpi. Setiap kali kakak-kakak Sanggar Juara datang, selalu ada yang maju ke depan untuk memimpin do’a. Rofi, salah satu murid yang masih duduk dibangku kelas satu (pada waktu itu) biasanya memimpin doa. Namun, kini rofi tak lagi memimpin doa, bahkan ia tak pernah datang setiap hari Sabtu. Ia pun tak datang ke sekolah. Pernah sesekali ia datang, tapi itu sangat jarang. Berbeda dengan adik Rofi, ia tetap bersekolah dan datang keTPA serta Sanggar Juara.


Selidik demi selidik, anak laki-laki yang meraih juara 1 saat duduk dibangku kelas satu tersebut ternyata memiliki masalah di dalam bidang ekonomi. Orang tua Rofi bekerja sebagai pengikat bayam. Pengahasilan yang diperoleh dari mengikat bayam (pagi hingga siang hari) sekitar Rp 7.000,00-Rp 11.000,00. Ibu rofi sudah tidak mampu memberikan uang jajan kepada Rofi, apalagi buku tulis sehingga Rofi tidak dapat bersekolah lagi. Kemauan bersekolah dan TPA serta Sanggar Juara masih ada didalam diri Rofi. Namun sayangnya, hampir setiap pagi, ketika keluarga tersebut tak lagi memiliki uang, ibu Rofi terpaksa tidak membangunkan Rofi, pun teman-temannya datang menjemput Rofi. 

Rofi, penerus bangsa ini seharusnya tidak berhenti sekolah begitu saja. Rofi dan anak-anak lain berhak mendapatkan pendidikan. Rofi, sang calon presiden, harus tetap bersekolah, apapun yang terjadi, Semoga Sanggar Juara melalui bantuan dari para donatur dapat membantu Rofi :")

Monday, December 2, 2013

Pencipta dalam Diri


Buat kalian-kalian seorang mahasiswa, pasti tau tentang PKM singkatan dari Proposal Kreativitas Mahasiswa. Saya dari dulu pengeeeen banget bikin PKM, tapi merasa nggak ahli dalam hal itu. So, kemarin sempet membuat proposal tersebut, tapi itu cuma sebagai anggota.
Sekarang, mumpung ada ide buat bikin PKM-GT (Gagasan Tertulis), saya mencoba mendiskusikan dengan salah satu dosen di departemen.  “Sebenarnya sudah banyak sekali mahasiswa yang ingin membuat PKM-GT. Tapi, kebanyakan dari mereka hanya mau saja, tanpa memikirkan lebih lanjut manfaat dari gagasan tersebut.  Selain itu, kendala yang biasa dialami adalah bagaimana menuliskan ide-ide kreatif tersebut secara ilmiah, sedangkan penulisan seperti itu belum menjadi sebuah habit di lingkungan kita, papar dosen saya”. Hampir 100% beliau benar. Kesibukan-kesibukan laporan menjadi hambatan bagi sebagian orang sehingga untuk turun langsung ke masyarakat pun dilupakan. Kita-kita hampir nggak tau nih masalah yang sesungguhnya dialami oleh masyarakat yang sangat membutuhkan solusi dari kaum muda.
Balik lagi ke PKM, yang pada intinya menciptakan sesuatu yang dapat bermanfaat untuk orang banyak. Penciptaan tersebut ternyata nggak gampang. Apalagi, ketika dlihat dari keasliannya (orisinil). Yang orisinil itu lah yang nggak instan. Butuh waktu yang lama untuk mewujudkannya. Tapi, hal pertama yang harus dibuat ialah desain. Oh ya, tahu siapa nama pencipta Dufan? Saya juga baru tahu hari ini. Ciputra adalah nama dari seseorang yang membuat Dufan. Ketika pertama kaiinya ia ke Ancol, ia melihat pantai yang sangat kotooor sekali, begitu juga dengan lingkungan di daerah tersebut. Saat itu, di daerah Ancol dijadikan tempat pembuangan mayat (sebelum tahun 1945). Kemudian, ia ingin membuat sebuah ‘Disney Land’ di Ancol, maka apa yang kita lihat dan kita  nikmati saat ini adalah sebuah desain yang telah lama dibuat oleh Ciputra.
Jadi, pada intinya, buatlah gagasan yg dapat bermanfaat untuk orang banyak dan saat hasilnya dilihat, orang-orang akan mengingat kita. Selain itu, ada beberapa kiat yang diajarkan oleh dosen saya untuk menciptakan sesuatu yang orisinil. Untuk gambaran jelasnya,kiatnya adalah sebagai berikut:
-          Berilah kebebasan diri dalam memilih atau menentukan apa yang ingin kita ciptakan, tanpa harus ada payung ketakutan
-          Buatlah desain dari apa yang ingin kita ciptakan. Buatlah, meskipun itu memerlukan waktu yang lama
-          Implementasikan pada masyarakat

Ternyata, kiat-kiat tersebut nggak susah, hanya saja, tanya dalam diri kita, apakah kita mau melakukannya? Jadi, selamat berkreasi untuk kaum muda, dimana pun, kapan pun. Jangan hanya karena ada event PKM ini kita baru mencari ide. Ciptakanlah ide-ide disetiap hari kita J

Saturday, September 28, 2013

Salam dari kota hujan

Selamat datang kepala dua. Rasanya saya ingin terus menjadi muda, saya belum melakukan apa-apa 20 tahun ini. Rasanya pun sudah tak pantas diberi hadiah dikepala dua... tapi segalanya menjadi berarti karena orang-orang tersayang. Kemarin itu indah, rasanya teduh. Tidak perlu keluarga datang ke kota hujan lagi, ingat, ini kepala dua. Meski orang tua saya menanyakan kenapa saya tidak pulang, itu karena saya masih ada tanggung jawab disini. Ada satu yang paling saya rindu, teman saya, teman lama saya. Saya merasa dia hilang, saya sangat merindukannya. Meski ia tidak rindu. Iya saya paham, ia tak merindukan saya.

Saya hanya ingin mendengar ia kembali bercerita, bukan memberi apa-apa. Sungguh. Saya hanya ingin kami kembali bercerita, bahkan kembali berdoa. Mungkin setahun lalu itu waktu yang singkat bagi kami. Tapi saya sangat bersyukur bisa mengenalnya. Tapi saya rindu, rindu yang tak tergantikan dengan foto, yang tak tergantikan dengan ucapan, yang tak tergantikn lewat pesan. Tapi apa daya, semesta seperti tak mengizinkan kami bertemu, bahkan bercerita seperti dulu. Saya mungkin dulu salah, penyebab semesta tak mengizinkan saya mendengar ceritanya kembali. Sungguh saya rindu teman saya yang ini, banyak pelajaran yang ia ajarkan kepada saya, tanpa ia ketahui. Saya pun belajar tentang makna kerinduan semacam ini darinya. Saya mengerti apa yang harus saya lakukan, itu pun darinya.

*Baik-baik disana ya semoga selalu dalam lindungan Allah.. aamiin.

Saturday, September 7, 2013

Revolusi Biru, untuk Indonesia yang lebih Kompetitif di Asia Pasifik

Revolusi Biru,
 untuk Indonesia yang lebih Kompetitif di Asia Pasifik

            Revolusi biru, apakah makna dari sebuah revolusi biru? Lalu, apa bedanya revolusi biru dengan revolusi hijau? Mungkin, kita sudah lama mengenal revolusi hijau. Program revolusi hijau merupakan perubahan kondisi penyuluhan pertanian yang semula menekankan pada bimbingan kepada petani dalam berusahatani yang baik, menjadi tekanan pada alih teknologi, yaitu mengusahakan agar petani mampu meningkatkan produktivitasnya dan produksinya, serta menekankan pada tercapainya target produksi padi, baik target nasional, daerah maupun lokal (Tjitropranoto 2003).
Revolusi biru memiliki makna meningkatkan produktivitas perikanan. Revolusi biru merupakan sebuah gagasan dari Kementerian Perikanan dan Kelautan atau KKP. Perbedaan revolusi biru dan hijau terlihat jelas. Jika revolusi hijau menekankan pada pertanian, revolusi biru menekankan pada bidang perikanan. Seperti yang telah kita ketahui, satu per tiga bagian dari Indonesia terdiri atas perairan. Banyak hal yang dapat diperolah dari kekayaan perairan Indonesia, misalnya rumput laut, merupakan salah satu komoditas perairan laut. Indonesia, sebagai negara maritim, melalui ABAC dalam APEC CEO Summit, diharapkan bisa memulai program revolusi biru dengan komoditas rumput laut.  
Rumput laut dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal yang dapat meningkatkan perekonomian Indonesia sehingga Indonesia lebih kompetitif  didalam Asia Pasifik. Di Indonesia, pemanfaatan rumput laut sudah mulai berkembang. Mulai dari pembudidayaan rumput laut hingga pengolahan rumput laut. Akan tetapi, Indonesia masih tetap mengimpor olahan hasil rumput laut tersebut dari negara lain. Rumput laut mengandung kadar iodium dan serat yang tinggi. Menurut Winarno (1990), kandungan iodium pada rumput laut yaitu 0,1 – 0,8% pada ganggang cokelat dan 0,1 – 0,15% pada ganggang merah. Kebiasaan mengonsumsi rumput laut dapat menuntaskan masalah Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) di Indonesia, salah satunya dengan cara menggunakan rumput laut untuk membuat selai. Penggunaan rumput laut untuk selai dapat meningkatkan kadar iodium (Astawan et al 2004).
Selain pembuatan selai dari rumput laut, terdapat pula minuman fungsional dari rumput laut. Minuman fungsional dari rumput laut telah diteliti oleh Mappiratu dan Masyahoro (2009). Peningkatan mutu dari minuman fungsional tersebut hanya perlu ditingkatkan mutu dan fungsinya. Peningkatan mutu dilakukan melalui penggunaan aroma buah, sedangkan peningkatan fungsi dapat dilakukan melalui penggunaan pemberi warna (Mappiratu 2010).
Contoh olahan dari rumput laut yang lainnya ialah mie rumput laut. Saat ini, mie merupakan makanan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Riset mie rumput laut juga telah dilakukan oleh Wirjatmadi et al (2002). Hasil riset tersebut perlu ditingkatkan lagi fungsinya dalam pencegahan dan penanggulangan berbagai penyakit. Penambahan minyak ikan pada mie rumput laut dapat meningkatkan kecerdasan dan menurunkan kolesterol darah terutama kolesterol jahat (LDL). Hal ini disebabkan minyak ikan mengandung EFA dan DHA. Penambahan daging ikan gabus pada mie rumput laut dapat menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes karena kandungan protein albumin yang tinggi terdapat pada saging ikan gabus (Mappiratu 2010).
            Contoh-contoh pemanfaatan rumput laut tersebut tentunya dapat meningkatkan  perekonomian Indonesia. Globalisasi merupakan tantangan besar bagi Indonesia untuk memperkenalkan olahan rumput laut hasil negeri. Tantangan tersebut tidak hanya pada pengenalan di negara-negara Asia Pasifik, namun juga di negara Indonesia sendiri. Globalisasi tentunya juga dapat menjadi suatu wadah atau kesempatan bagi Indonesia untuk memperkenalkan olahan dari rumput laut. Suatu cara yang dapat dilakukan ialah menjadikan olahan-olahan tersebut dalam industri modern.
            Di zaman yang serba modern ini, masyarakat menuntut sesuatu yang instan, cenderung konsumtif. Hal ini memang tidak dapat dihindari. Namun, hal tersebut merupakan sebuah peluang untuk memperkenalkan olahan rumput laut. Industri rumput laut yang modern semestinya harus memasuki kota. Jika masyarakat Indonesia konsumtif bagi produknya sendiri tentu tak perlu dikhawatirkan.
            Pertanyaan besar untuk hal ini ialah: apakah bisa masyarakat Indonesia menggantungkan dirinya pada produk dalam negeri? Ya, tentu saja bisa. Melalui penjamuran suatu produk tersebut. Pemunculan trend dari penggunaan produk tersebut merupakan langkah yang tepat.       
            Konsumtif dan trend merupakan sebuah kombinasi dan kesempatan baik bagi Indonesia. Kombinasi tersebut akan menghasilkan sebuah “Seaweed Houses”, sebuah industri modern dari rumput laut. Selai, minuman fungsional, dan masih banyak lagi hasil olahan rumput laut dapat diperkenalkan disini. Pembangunan sebuah “Seaweed Houses” tentunya menjadi bagian impian dari revolusi biru. Konsepnya sederhana. “Seaweed Houses” merupakan pusat olahan hasil rumput laut. Banyak sekali hasil olahan rumput laut yang belum diketahui oleh masyarakat Indonesia itu sendiri. Kebanyakan hasil riset pun belum terealisasikan menjadi sebuah industri modern. “Seaweed Houses” juga dapat meningkatkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia dengan berwirausaha dari hasil laut negeri kita sendiri. Kemudian, dari mana rumput laut tersebut diperoleh hingga dapat diperkenalkan di “Seaweed Houses”?
            Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan, ujung tombak dari revolusi biru ialah perikanan budidaya. Budidaya rumput laut pun telah berkembang di negara kita. Di Sulawesi Tengah, kegiatan budidaya rumput laut dimulai pada tahun 1990 dalam skala kecil. Tahun 1997, di Kepulauan Samaringga berhasil membudidayakan rumput laut jenis Eucheuma cottonii (Fauziah, 2009; Hamja, 2009). Selain itu, berkembang pula budidaya rumput laut jenis Gracilaria sp., terutama di daerah Kabupaten Morowali. Produksi rumput laut Eucheuma cottonii dan Gracilaria sp. di Sulawesi Tengah pada tahun 2005 mencapai 244.133 ton basah. Produksi tersebut menjadikan Sulawesi Tengah menempati urutan ketiga penghasil rumput laut terbesar di Indonesia setelah Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur.
            “Seaweed Houses” merupakan cita-cita yang dapat terwujud. Tentunya, sangat diperlukan dukungan dari ABAC dan pemuda Indonesia, dalam APEC CEO Summit. Pemuda Indonesia sebagai promotor memiliki peran yang amat penting. Saat ini, saya sebagai mahasiswa Perikanan dan Kelautan, tentunya harus mendorong teman-teman pemuda lainnya untuk mencintai laut Indonesia, mencintai produk Indonesia. Selain mencintai kekayaan laut, memanfaatkan hasil laut, melakukan kegiatan perikanan budidaya, hal yang dapat dilakukan oleh pemuda untuk mewujudkan Indonesia yang lebih kompetitif di Asia Pasifik, yaitu dengan cara memupuk jiwa kewirausahaan sejak dini. Awal tahun 2013, saya bersama teman-teman lainnya mencoba membuat selai rumput laut yang didiversifikasi dalam makanan, yaitu bakpao. Ya, sebuah permulaan untuk “Seaweed Houses”, bagian dari revolusi biru. Tulisan ini juga merupakan bagian dari revolusi biru saya, untuk ABAC, untuk Indonesia yang lebih kompetitif di Asia Pasifik.

DAFTAR PUSTAKA
Astawan Made, Sutrisno Koswara, Fanie Herdiani. 2004. Pemanfaatan rumput laut (Eucheuma cottonii) untuk meningkatkan kadar iodium dan serat pangan pada selai dan dodol. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan XV (1): 61-69.
Fauziah N. 2009. Ekstraksi dan Karakterisasi Karaginan dari Rumput Laut Eucheuma cottonii [Skripsi]. Palu: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNTAD.
Hamja.  2009.  Mutu Rumput Laut Eucheuma cottonii di Kabupaten Morowali dan Potensi Limbah Karaginan Sebagai Pakan Ternak [Tesis]. Palu: Sekolah Pascasarjana Universitas Tadulako.
Mappiratu dan Masyahoro. 2009. Kajian Budidaya dan Teknologi Pengolahan Rumput Laut di Perairan Teluk Palu.  Kerjasama BAPPEDA dan Penanaman Modal Kota Palu dengan Pusat Kajian Sumberdaya Posisir dan Lautan Tropis (PKSPL – TROPIS) Fakultas Pertanian UNTAD, Palu.
Mappiratu. 2010. Strategi riset rumput laut untuk produksi produk spesifik daerah Sulawesi Tengah. Media Litbang Sulteng 3 (2): 91-95 ISSN : 1979 – 5971.
Tjitropranoto. 2003. Penyuluhan Pertanian: Masa Kini dan Masa Depan dalam I Yustina dan A Sudradjat (eds). Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan: Didedikasikan kepada Prof. Dr. HR Margono Slamet. Bogor: IPB Press. 
Winarno. 1990. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Jakarta: Sinar Pustaka Harapan.
Wirjatmadi B, M Adriani, S Purwantil. 2002. Pemanfaatan rumput laut (Eucheuma cottonii) dalam meningkatkan nilai kandungan serat dan yodium tepung terigu dalam pembuatan mi basah. Jurnal Penelitian Medika Eksakta 3 (1): 89 – 104.



Catatan: Tulisan ini diikutsertakan dalam ABAC Writing Competition 2013

Saturday, April 20, 2013

Pilih Pasar Kaget atau Belajar?

 Mungkin masih ingat mengenai postingan saya tentang Sanggar Juara. Pagi tadi, saya baru saya turun lapang ke Desa Situ Leutik di derah Dramaga. Kami datang terlambat, lebih cepat dari keberadaan pasar kaget di daerah Bara.

Bara adalah sebuah nama daerah yang terletak disekitar kampus. Disetiap hari Minggu, selalu ada pasar kaget di Bara. Sekitar pukul 6 mungkin sudah ramai sekali. Adanya pasar kaget ini menjadi ladang usaha bagi masyarakat sekitar dan kadang juga mahasiswa. Mahasiswa yang sedang membutuhkan dana kerap menjajakan dagangannya di pasar kaget tersebut (misal: baju bekas), atau kadang menawarkan dagangan untuk para pengunjung yang senam (re: makanan dan minuman). Menurut saya, hal tersebut merupakan hal positif yang tidak ada salahnya jika dilakukan. Uang di pasar kaget ini mungkin akan terus berputar disitu-situ saja. Subjeknya adalah mahasiswa, pedagang, dan pengunjung. Berbicara soal pengunjung, anak-anak di Desa Situ Leutik adalah anak-anak yang ingin menjadi bagian dari pengunjung tersebut. Saya tidak merasa keberatan. Tapi, jujur, saya merasa sedih ketika saya datang ke sekolah Situ Leutik, dan anak-anaknya tidak ada karena mereka semua ke pasar kaget.

Ya, saya kaget karena pasar kaget. Betapa sedikitnya hasrat mereka untuk belajar, betapa sedikitnya hasrat para ibu untuk mengajak anaknya belajar. Miris. Terlebih desa Situ Leutik terletak di daerah kampus. Saya pun miris, saat perjalanan menuju Sekolah Situ Leutik, saya lihat ebberapa remaja, yang berpakaian tidak senonoh. Mereka adalah bagian dari penerus bangsa. Anak-anak bisa saja mencontoh para remaja yang berada didekat lingkungannya.

Kembali lagi mengenai pasar kaget. Entah apa yang anak-anak cari disana. Saya sedih sekali, bahkan saat kami datang pun, mereka justru kabur. Mungkin ini juga merupakan teguran bagi para mahasiswa, atau penerus bangsa, di zaman yang seperti ini, kita harus sekreatif mungkin untuk mengajarkan anak-anak agar mereka tidak bosan. Kita harus dapat bersaing dengan faktor-faktor yang dapat menurunkan niat belajar anak-anak. Dan, bukan salah pasar kaget, bukan salah anak-anak. Bisa jadi budaya. Ya, pendidikan karakter yang mungkin adapat mengubahnya. Ketika kita mengetahui lingkungan mereka, bagaimana mereka dididik oleh orang tuanya, sudah saatnya kita membantu anak-anak agar memiliki karakter yang baik sehingga budaya apa pun itu yang sedang berjamur tak menjadi budaya yang harus diikuti.

Selamat mengajar untuk kamu yang ingin mengajar,

Salam.

Friday, April 19, 2013

Intuisi dan Sanggar Juara


“Kak Syifaaaa!!!”, anak kecil itu berteriak menghampiri perempuan yang berjalan ke arahnya.
Ku lihat, perempuan itu menanggapinya dengan pelukan hangat. Aku memperhatikan keduanya. Anak-anak yang lain ikut menghampiri perempuan itu. Mereka berteriak kegirangan. Perempuan itu seperti membawa mainan bagi mereka.
“Yuk masuk kelas!”
Perempuan itu mengajak anak-anak masuk ke dalam kelas. Sekolah hari ini libur. Ya, ini hari Sabtu. Tapi, hari ini tetap ramai dengan anak-anak kecil yang sepertinya menanti perempuan itu disetiap pekan. Sekolah ini berada di salah satu Desa di Kabupaten Bogor. akses untuk ke sekolah ini tidak terlalu sulit. Aku melihat sekeliling sekolah. Hanya ada beberapa pintu kelas saja, sekitar delapan atau sepuluh kelas. Perempuan itu masuk ke dalam kelas diikuti yang lainnya.
“Gia, lihat ke arah sini!”
Perempuan itu memanggil salah satu dari mereka dan mengarahkan lensa kamera ke arahnya.
Aku memperhatikan perempuan yang sudah akrab dengan mereka, ku dengar tadi namanya Syifa.
Aku tersenyum melihatnya. Perempuan itu mengingatkan ku pada satu sosok.
Aku memperhatikan hiruk pikuk di dalam kelas. Mereka asyik berbicara satu sama lainnya. Beberapa juga berbicara dengan kakak-kakak yang datang. Suasana kelas cukup ramai. kursi kelas hampir penuh oleh anak-anak yang tidak berseragam. Ya, ini Sabtu. Ini merupakan kegiatan mengajar yang dilakukan oleh suatu acara di kampus ku. Hari ini, aku mencoba menjadi volunteer.
“Jadi, kalian nggak boleh buang sampah sembarangan lagi karena akan menimbulkan bau yang akhirnya menjadi sarang penyakit”, seorang pembicara menjelaskan kepada anak-anak. Ditampilkannya gambar-gambar yang menarik untuk mereka.
Mereka semua mengangguk kompak, meskipun umur mereka berbeda-beda. Aku berkenalan dnegan slaah satu darinya, ia duduk di bangku kelas 4. “Rara teh”, jawabnya ketika aku menanyakan namanya.
Aku tersenyum ke arahnya. Rambutnya yang lurus dikuncir seperti ekor kuda. Ia berbisik-bisik dengan teman sebelahnya dan kemudian tersipu-sipu. Aku tertawa melihatnya dan mencoba mengabadikan momen tersebut. Kegiatan mengajar di sekolah ini berlangsung singkat. Sebagai penutup, kak syifa meminta agar mereka menampilkan sebuah nyanyian di depan kelas. Dua aorang anak perempuan mencoba menunjukkan dirinya. Aku tidak terlalu mengerti lagu yang mereka nyanyikan. Yg aku dengar, mereka menyebut-nyebut kata ‘banana’. Aku hanya mengambil gambar mereka dan tak sempat mengambil videonya, ah sayang sekali.


Saat kegiatan usai, aku mencoba melihat sekeliling kelas. Anak-anak memang kreatif. Ku lihat gantungan-gantungan buatan tangan mereka sendiri terurai dijendela-jendela kelas. Aku membantu yang lainnya membereskan kursi-kursi yang telah dipakai. Beberapa kursi harus dikembalikan ke kelas sebelah. Ku angkat satu kursi ke dalam kelas sebelah. Aku melihat kerajinan tangan yang lebih banyak didalam kelas ini. Rara, anak perempuan yang tadi berkenalan dengan ku menghampiriku.
“kamu bisa bikin ini?”, tanya ku sambil menunjuk burung-burung kertas yang terpajang di jendela.


“bisa teh”, jawabnya seraya tersenyum
“Wah...hebat. siapa yang ngajarin rara?”, tanya ku lagi
“Bu guru”, ia menjawab tanpa melihat ke arah ku, tangannya asyik bergerak memainkan kertas bekas yang akan dijadikn burung-burung kertas.
Ia memberikan ku burung-burung kertas kemudian pergi begitu saja. Aku mengambil burung-burung kertas dan menyimpannya di dalam tas. Ku tinggalkan ruang kelas dan kembali beraur dengan yang lain.  
Aku berfoto bersama yang lain dihalam sekolah. Kebanyakan dari mereka berasal dari jurusan komunikasi. Ku abadikan sudut-sudut di sekolah itu, entah kenapa sekolah ini amat berkesan bagi ku. Rasanya aku ingin kembali kesini dan lebih dekat dengan anak-anak disekitarnya.
Kami berjalan menuju kampus melewati sawah dan kebun. Berbeda saat kami datang kesini, ya, menggunakan angkutan umum.
“Wah, aku baru tahu loh kita bisa lewat sini!”, aku memasang muka antusias
“Kapan-kapan ikut kita lagi aja ya!”, ajaknya. Tapi ia bukan syifa.
Aku menggangguk seraya tersenyum. Sesekali kulirik syifa, ia asyik dengan kameranya.
Aku tiba di asrama kampus setelah satu jam berjalan, ditambah dengan mampir kesana-kemari. Badan ku letih bukan main. Ku ambil burung kertas yang tadi, ku letakkan di atas meja belajar. Burung kertas itu terus tergeletak disana.
Meja belajar ku semakin berkesan dengan satu burung kertas. Ku lihat, burung itu telah nampak berdebu. Entah kenapa aku tak ingin membuangnya. Warnanya pun sudah usang. Sudah berbulan-bula burung itu tergeletak disana. Aku mencoba mengingat apa yang sempat diceritakn oleh anak-anak di tempat ku menjadi volunteer. Ada yang bercerita bahwa mereka akan tampil di kampus, entah acara apa. Aku benar-benar lupa.  
Sekian lama burung kertas itu berada di meja belajar ku. aku tetap belum membuangnya meski berdebu.
 Sejak aku sibuk dengan beberapa tugas, aku hampir mengubur keinginan ku untuk mengajar. Keinginan ini kembali muncul saat bertemu anak-anak kecil dikantin. Aku mencoba mendaftar menjadi tenaga pengajar non volunteer di salah satu tempat les. Sayang sekal, belum rezeki.  
Oh ya, ada satu kegiatan yg menurut ku bagus untuk dilakukan. Ya , kepo. Aku sering sekali memantau akun tweet kampus untuk mendapatkan info-info. Hasil dari kepo tersebut, aku memfollow Sanggar Juara, sebuah komunitas yang berbasis pendidikan dan lingkungan. Aku mencari-cari info mengenai sanggar juara, melalui tumblr, bahkan mengontak untuk menjadi volunteer, tapai sayang aku tidak mendapat respon.  Aku menunggu sampai tiba open recruitment dari Sanggar Juara. Dan.............................aku masuk!
Kegiatan mengajar Sanggar Juara berlangsung disetiap pekan. Dihari Sabtu, SJ mengajar di Desa Pabuaran. Sementara itu, di Hari Minggu, SJ mengajar didaerah Situ Leutik. Aku hanya bisa datang pada hari Minggu untuk turun lapang perdana ini. Kami berjalan kaki melewati sawah dan kebun. Sesampainya disana, ternyata sekolah tersebut adalah sekolah yang pada waktu itu aku datangi. Anak-anak berlarian menghampiri kakak-kakak yang sudah mereka kenal sebelumnya. Saat masuk didalam kelas, mereka menyanyikan lagu “Open Banana”. Aku tersenyum selama kegiatan berlangsung. Mungkin ini yang dapat disebut dengan intuisi. Ya, pada dasarnya, kita memang memiliki kewajiban untuk mencari dan berhak mendapatkan apa yang telah kita cari. 


Friday, April 12, 2013

Untuk Calon Ibu


Ia datang bersama seorang bapaknya. Sudah jelas pasti itu ayahnya. Digandengnya tangannya seraya membawakan tas punggung. Ia masih sangat kecil, mungkin masih duduk di Taman Kanak-kanak. Aku memperhatikan ia yang begitu menggemaskan. Blue jeans yang dikenalan disepadankan dengan kaos mungilnya. Sepatu ketsnya mendukung aktifitasnya hari ini.

“Duduk sini”, samar-samar ku dengar ayahnya mengajak ia duduk di bangku sebelah.

Ia mengangguk angguk dan mencoba duduk manis. Dibukanya menu makanan yang ada di hadapannya. Aku berlagak sibuk sambil sesekali memperhatikannya.

“Mau roti bakaaaaaaaaar”, kayanya sambil menunjuk gambar roti bakar dengan taburan keju

“hmm...masa roti? Nasi aja deh”, jawabnya membuka-buka halaman menu

Aku tersenyum mendengar ucapan sang ayah. Ada satu hal yang perlu diketahui seorang bapak, bukan hanya seorang ibu. bahwasanya roti terbuat dari karbohidrat, sama seperti nasi. Hanya saja, jumlah karbohidrat pada nasi sedikit lebih bnayak dibandingkan dengan roti.
Aku menikmati hidangan ku yang datang. Teh tubruk menjadi teman yang lengkap dengan hidangan kali ini. Restoran sore ini cukup ramai, beberapa orang berdatangan dan memesan roti bakar. Ku lihat pelayan yang mondar mandir membawa roti bakar diatas nampannya.
Hidangan ku sudah habis. Tapi entah mengapa aku tak ingin beranjak pergi. Niat ku untuk berbelanja di salah satu mall yang ada didaerah Bogor tiba-tiba saja hilang.
Ku tengok meja sebelah. Sang ayah sedang berusaha menyuapi ia. Ia tak mudah untuk diam. Seringkali beranjak dari kursinya dan berlari ke etalase mainan yang ada direstoran tersebut. Mungkin mainan tersebut sangat unik n=baginya di era ini. ya, restoran dengan nuansa jadul ini juga menjual beberapa barang-barang lama dan mainan-mainan lama. Aku suka. Disini, tersedia mainan congklak, mobil-mobilan dari kayu, masak-masakan dari eceng gondok, dan segala sesuatunya yang berbau hand made. Oh ya, masih ingat cokelat ayam jago? Restoran ini menjualnya. Mungkin dulu dapat dijumpai dengan harga 500 rupiah. Tapi sekarang, disini dijual seharga 13000 rupiah per 3 bungkus.  Aku tadi sempat melihat-lihat etalse bagian makanan-makanan yang ngetrend dizamannya.
Aku kembali melirik sebelah meja yang menurutku lebih menarik dari restoran ini. ku lihat anak itu melepas sepatunya dan menaikkan kakinya di kursi. Aku tersenyum melihatnya. Ia yang menurutku calon ganteng tersipu malu dan menutup muka dnegan bantal yang ada dikursi. Satu hal yang menjadi pertanyaan ku adalah: dimana ibunya?

Ku lihat ia sudah tak mau menyantap satu sendok yang diberikan sang ayah. Sang ayah mencoba memaksanya tapi ia tak mau dipaksa. Di biarkannya satu piring besar nasi goreng tergeletak di mejanya. Sang ayah mengerjakan sesuatu dan ia kembali berlarian di dekat etalase mainan.  Satu hal yang terbesit dipikiranku: mungkin ibunya akan datang.
Aku bengong sambil menghabisi teh tubruk yang menjadi andalan restoran ini. mata ku mengarah pada pintu masuk restoran. Seorang perempuan berbaju batik dan kerudung cokelat datang menghampiri meja sebelahku. Dicium dan dipeluknya ia. Ah benar saja. Ibunya datang. Ku tebak, ibunya pasti baru saja pulang kerja. Biasanya, orang kantoran mengenakan baju batik di Hari Jumat.

“Gimana seneng nggak jalan sama ayah?”, kata sang ibu sambil duduk di depan ayah dan ia.

Aku tak mendengar jawaban dari ia. Ia menarik tangan ibunya, mengajak sang ibu melihat-lihat mainan. Kemudian mereka kembali lagi ke ayah dan ketiganya asik mengobrol. A simple happy. Di sudut meja sana kuliah juga seorang ayah bersama seorang anak laki-lakinya. Satu piring roti bakar disantap berdua. Sesekali sang ayah memeluk anaknya. A simple happy. Kata ku lagi dalam hati. Aku mencoba menebak lagi kemana ibunya. Mungkin sedang berbelanja. Tapi aku tak sempat melihat ibunya. Aku harus segera pulang. Aku keluar dari mall menuju terminal. Duduk di deretan 2 kursi di bis adalah pilihan yang tepat ketika pulang sendirian. Aku masih teringat kebahagiaan kecil yang tadi. Segala sesuatunya memang akan terasa menyenangkan jika kita menikmatinya.

“Halo na, ini ibu”, ku dengar perempuan disebrang ku berbicara melalui telefon genggamnya.

Ku rasa, suaranya cukup terdengar disekitarnya. Nada suara perempuan itu begitu menggebu.

“Tadi kamu pakai tempat minum ibu yang Starb*cks? Kok di pake sih? Tadi tuh ibu taro disitu supaya dicuci”, katanya dengan nada tinggi.

Suara disebrang telefon menanggapinya.

“Ya ibu kan biasanya pakai itu na. Kamu tuh, kenapa dipakai sama kamu. Ibu beli itu mahal”.

“Ya masa nggak dicuci-cuci. Kamu taro sekarang, simpen. Mahal itu harganya”, sambungnya, nada suaranya semakin tinggi dan semakin terdengar di bis.

Aku melirik ke arah perempuan itu. Tak ada salam, tak ada kata-kata yang menunjukkan kasih sayang. Mungkin saat sampai dirumah, tak ada pelukan dari ibunya, tak ada ciuman dari ibunya. Sebuah keterbalikan dengan kejadian di restoran tadi. Bahwasanya ada yang lebih penting dari sekadar tempat minum mahal. dan tak selamanya segala hal dapat dibeli dengan uang. Apalah arti sebuah tempat minum mahal. untuk kamu yang akan menjadi seorang ibu, akan ada di posisi yang manakah?

Selamat berakhir Pekan!

Cheers,

Monday, April 8, 2013

cerita tentang kau


Saat langit sore mulai gelap
Engkau selalu bercerita
Tentang burung yang bermigrasi jauh
Engkau lantunkan nyanyian
Seiring angin yang mengibas rambutmu
Menjadi satu nada sempurna

Mungkin engkau tak tahu dimana
Sudut mata ku melihat
Saat ranah kita tanpa sinar matahari
Kau terus bercerita

Kini rembulan menghiasi senyummu
Kau semakin elok dengan cerita mu
Engkau bacakan bait-bait suara hati mu

Kau terus bercerita
Bintang di pelupuk mata ku
Hanya engkau
Kau tak henti bercerita
Sampai aku ingin selalu terjaga

Kau bercerita
Dan ku sampaikan pesan ku pada
Tatapan penuh rindu
Karena aku tak selamanya mendengar,
Tak selamanya ada

Sunday, February 24, 2013

sebut saja kami (keluarga)

Aku bertanya pada pagi yang sibuk
pada kalian yang menikmati
atau tidak
Tak ku temukan jawaban.

Pena kalian terus bergerak melantunkan
hasil-hasil karya orang
Jemari kalian tak mau kalah
beberapa kalimat hanya untuk sekedar nilai

ya, sebut saja kami (keluarga)

Aku bercerita pada hujan di sore
hari ketika senja tak datang pada kami
Senja selalu kami lewati begitu saja
Sayang

Aku bertanya pada langit malam
Tapi kalian terus menoleh
ke sebrang arah
Disana.

Bibir kalian berkomat-kamit
memanjatkan mantra-mantra
Sayang,
bukan doa

sebut saja kami (keluarga)

diantara kami tak pernah bertegur sapa
tapi sebut saja kami (keluarga)

meski kami pun tak saling berbagi rasa
tapi sebut saja kami (keluarga)

atau kami memang tak menikmati
si pencerah hari, rintik hujan, gelap malam
tapi sebut saja kami (keluarga)


Tuesday, February 12, 2013

Sukma Bersabda


Jakarta,  Juni 2011

Namanya Sukma. Aku biasanya memanggilnya Mbak Sukma. Umurnya lebih tua dua tahun dari ku. Badannya tinggi kurus, kulitnya sawo matang, sekilas siapa saja bisa menebak benar kalau ia adalah orang Jawa. Sukma mandiri dan memiliki pendirian. Beberapa tahun silam, kami kadang berbagi kisah.
"Jadi perempuan tidak boleh lemah", sabdanya. Ia berbicara dengan muka yang tegas. Aku melihat rautnya yang ayu.
Kami berjalan menyusuri gang kecil di daerah Jakarta Selatan. Satu tahun lebih yang lalu, waktu ashar hampir habis tapi kami belum menemukan mushola.
"Iya mbak", aku mengangguk sambil tersenyum padanya.
Ia kembali tersenyum pada ku dan anak-anak kecil yang sedang bermain disekitar gang.
"Jadi perempuan juga nggak boleh ketergantungan sama laki-laki ran", katanya lagi sambil tengok kanan kiri, barangkali mushola yang kita cari sudah lewat.
Aku tersenyum tipis mendengar perkataannya, merasa tersindir. 
"Ran, ini mana ya musholanya? Coba kamu tanya bapak-bapak itu deh".
"Mbak Sukma aja deh yang tanya, Rana malu", kata ku sambil nyengir.
"Malu bertanya sesat di jalan, gimana sih Ran tanya gitu aja malu".
Kami melanjutkan perjalanan setelah mendapat arahan dari bapak tersebut. Mbak Sukma yang bertanya. Saat itu, aku masih seperti anak kecil di hadapannya.
"Nah, ketemu juga akhirnya", aku melihat senyum manisnya dibalik kerudung hitam itu.
Setelah sepuluh menit, kami bergegas kembali ke sebuah rumah rekaman.
Kami berjalan menyusuri gang yang sudah hampir gelap. Sebagian lampu-lampu rumah warga sudah menyala. Ada yang berkecimuk di hati dan fikiran ku, menembus sinar-sinar lampu. Sepanjang perjalanan, aku dan Mbak Sukma sama-sama diam. Entah siapa yang menyembunyikan dari siapa. Aku mengingat-ingat ucapannya ketika kami sedang mencari mushola tadi. Ada benarnya juga. Mbak Sukma tahu pasti apa yang terjadi.

                                                                        
Semarang, Juni 2011

Selamat datang Semarang. Ucapku dalam hati saat sampai di Semarang. Aku sudah jauh melangkah. Aku melihat langit Semarang. Masih sama seperti langit Jakarta. Sena, apa kabar dengannya? Kami bertemu terakhir kemarin sore. Ia mengantar ku membeli keperluan untuk di Semarang.
“Ayo Rana, kopernya di bawa, jangan bengong terus”, ibu tertawa kecil melihat muka ku yang bingung.
Aku membuka pintu kamar, debu-debu menyambut kedatangan penghuni baru.
Ibu membantu aku membersihkan kamar kos ku, menyusun barang-barang bawaan ku.
Aku pasti akan merindukan ibu.
“Nanti seminggu sekali bisa main ke rumah Tante Dian. Tante Dian sudah seperti adik ibu loh, Ran. Tante Dian juga pandai memasak, kamu belajar lah sama dia”.
Ibu menceritakan sosok sahabatnya. Ibu dan Tante Dian bersahabat sejak di bangku SMA.
“Ya kalau nggak sempet seminggu sekali, dua minggu sekali juga boleh”, sambung ibu.
Aku mengangguk dan mengingat wajah Tante Dian. Aku tidak ingat terakhir kali bertemu dengannya saat aku berumur berapa. Mungkin aku masih berumur delapan tahun. Saat Tante Dian tinggal di Jakarta, ia sering mengunjungi ibu. Tapi itu sudah lama sekali. Aku hampir lupa wajah Tante Dian, yang kata ibu, ia senyumnya sangat manis seperti cake yang sering dibuatnya.
“Sudah selesai beres-beresnya bu? Ibu sama anak kok sama aja, sama-sama suka gosip”, ayah datang terkekeh sambil membawa minuman untuk kami.
“Ini bukan gosip yah. Ibu tuh lagi cerita tentang Tante Dian ke Rana. Ayah ingat Dian kan? Itu loh sahabat ibu yang suka main ke rumah waktu Rana masih kecil”, ibu berbicara penuh semangat.
“Iya, nanti kita coba hubungi Dian ya bu untuk menitip Rana”, kata ayah.
Ibu membetulkan jilbabnya dan mengajak ku keluar kamar bersama ayah. Kami harus pergi ke kampus untuk mengurus surat-suratku.
“Sebentar bu, ini yang terakhir”, aku meletakkan foto ku bersama Sena di meja belajar. Itu adalah foto yang paling ku sukai. Foto box bersama kekasih menjadi hal yang wajar dilakukan pada masa putih abu-abu.


Jakarta, Juni 2011

"Could it be love, could it be love, could it be, could it be,could it be love....", Sukma berdendang diiringi gitar akustik yang dimainkan oleh seorang drummer dari grup bandnya.
Ia menyanyikan beberapa buah lagu. Kami masih di rumah rekaman. Asap rokok mengepul di sekitar kami. Bukan kami yang merokok, tapi personel grup bandnya. Aku menahan napas. Sedikit tidak ikhlas paru-paru ku di aliri gas beracun tersebut. Aku hanya diam diantara mereka. Ya, memang selalu begitu.
"Ran maaaf ya lama, kamu nggak apa-apa kan?", tanya Sena sambil meraih tangan ku. 
"Nggak apa-apa kok", jawab ku seraya tersenyum.
Hari ini, aku mati-matian menemaninya karena kita akan jarang bertemu. Aku harus pergi ke luar kota minggu ini.
Sena mengambil gitar dan Sukma kembali bernyanyi. Jika dibandingkan dengan Rian, si drummer, Mbak Sukma lebih cocok bernyanyi dengannya ketimbang harus bernyanyi bersama Sena. Kabarnya, ada kedekatan lebih antara Mbak Sukma dan Rian. Aku setuju itu. Mbak Sukma baik, ia pantas mendapatkan laki-laki yang baik juga.
"Jadi, kapan kamu berangkat?", tanya Mbak Sukma membuka obrolan. Sepertinya, ia bisa membaca gelagat ku yang mulai bosan.  
"Tiga hari lagi mbak, aku titip Sena ya", kata ku sambil memamerkan gigi-gigi ku.
Ia tertawa kecil kemudian menjawab, "Siap, tenang aja Ran".
Sena dan personel lainnya sedang di dalam dapur rekaman. Di sela-sela latihan pun, ketika aku datang, aku selalu ditemani Mbak Sukma. Ia bercerita tentang kesibukannya, tentang dunia perkuliahannya.
“Ran, udah malem loh ini, kamu nggak di cariin orang tua mu?”, pertanyaan Mbak Sukma membuyarkan lamunan ku.
“Engga mbak, tadi aku udah izin kok. Lagipula, kapan lagi aku ketemu Sena”, aku manarik nafas panjang membayangkan satu minggu ke depan, dua minggu ke depan, tiga minggu ke depan, ah sudahlah.
“Iya ya, pasti nanti jarang pulang, hati-hati ya Ran disana”, Sukma tersenyum dan aku merasa ia benar-benar seperti sosok mbak ku.
Aku menggangguk pasti dan membalas senyumannya.
“Sukma, nyanyi lagi yuk, masih lama banget nih”, Rian datang membawa gitar dan menghampiri Sukma.
Sukma berdendang, menghayati lagu yang ia nyanyikan, ia sempat mengajak ku bernyanyi bersama. Tapi, aku menolaknya. Aku tidak berbakat dalam hal menyanyi. Sena tahu itu. Sekitar jam 10 malam kami meninggalkan rumah rekaman. Sebelum pulang, aku berbincang dan melepas rindu dengan Sena. Aku mampir ke rumah Sena dan berpamitan dengan ibunya. Sena tidak mengantar ku. Aku pulang bersama Mbak Sukma, dengan sepeda motornya. Rumah kami searah.
“Sukma, titip Rana ya”, Sena tersenyum kepada Sukma sambil mengusap kepala ku.
Malam itu, di halaman depan rumah Sena, Sukma seperti tempat penitipan bagi aku dan Sena. Sukma seperti dipercaya oleh kami berdua. Mungkin, karena ia satu-satunya perempuan yang ada di grup band ini. Satu-satunya perempuan selain aku.
“Pasti aku jagain Sen”, Sukma bersabda.
Aku senang sekali bisa mengenal sosok Mbak Sukma, sepertinya Sena juga senang.


Semarang,  Juni 2011

“Ibu sama ayah sudah memutuskan untuk menginap semalam disini. Ya, untuk nemenin kamu juga kan dan siapa tahu nanti Tante Dian menghubungi Ibu balik”,kata ibu
“Loh bu, nanti kerjaan ayah gimana?”, tanya ku
“Oalah kamu ini Ran, ayah kan bisa ambil cuti satu hari. Iya kan yah?”
“Iya Ran, besok sore mungkin kita baru pulang”, ayah berkata dan membelokkan mobil ke arah sebuah penginapan.
Aku menuruti perkataan orang tua ku. Mereka pasti tahu yang terbaik buat aku. Kami menginap di sebuah penginapan, tidak jauh dari tempat kosan ku. Malamnya, Tante Dian menelfon ibu. Ia memberikan alamat rumahnya. Ternyata, rumahnya tidak begitu jauh dari sini. Aku percaya pada ibu, ayah, dan tentu saja pada Tante Dian.

Ini pertama kalinya aku dibawah langit malam Semarang. Ternyata, Semarang dimalam hari begitu indah. Sepertinya aku mulai betah disini. Ku coba mengirim pesan singkat untuk Sena. Gagal. Aku coba menelfonnya. Sayang sekali, nomornya tidak aktif. Ah, mungkin Sena sudah tidur. Aku memilih untuk beristirahat daripada harus memikirkan Sena.

Pagi harinya, aku bersama ibu dan ayah mengunjungi rumah Tante Dian. Tidak sulit mencari alamatnya. Ya, semesta kadang berpihak pada kita. Atau kadang berlawanan dengan kita. Seperti aku yang menunggu kabar dari Sena. Ku coba mengirimkan pesan singkat kepada Mbak Sukma. Barangkali, ia bisa membantu ku.
“Ran, dulu tuh ya, Tante Dian kalo ke rumah, pasti bawain kue buat kamu”, ibu membuka obrolan
“Oh ya bu? Aku hanya ingat sedikit bu”, aku mengerutkan alis. “Bu, kenapa Tante Dian harus pindah kesini?”,tanya ku.
“Tante Dian dulu menikah dengan orang Jakarta. Setelah memiliki seorang anak, mereka bercerai. Anaknya dibawa oleh suaminya. Makanya, Tante Dian memilih pindah ke Semarang untuk tinggal bersama adiknya”.
Aku mengangguk mendengar cerita ibu. aku bersyukur sekali karena orang tua ku tidak berpisah. Mobil kami berhenti di depan sebuah rumah. Rumah yang sangat sederhana. Jika dilihat dari desainnya, rumah Tante Dian seperti rumah-rumah lama. Aku melihat pagarnya yang masih terawat, juga tanaman-tanaman hias yang tersusun apik.
“Asri!”, seorang perempuan keluar dari pintu dan segera membukakan pagar.
“Dian! Ya ampun, kamu apa kabar?”, ibu dan Tante Dian saling mencium pipi kanan dan kiri.
“Rana! Kamu sudah besar sekarang. Cantik sekali seperti ibu mu. Dulu tuh ya, waktu tante main ke rumah, kamu masih suka nangis”, Tante Dian mengelus rambut ku.
“Ah tante aku jadi malu”, aku terisipu mendengar cerita Tante Dian.
Kami duduk diruang tamu. Aku melihat sekeliling ruang. Tante Dian sangat cerdas menata ruangan ini. Aku juga terkesima dengan halaman rumahnya.
“Ayo, dimakan dulu kuenya”, Tante Dian menghidangkan kami kue kering buatannya. “Sri, Sri, mbok ya bilang loh dari kemarin-kemarin. Jadi kan Rana nggak perlu cari kosan”, sambungnya.
“Aku sengaja, biar dia mandiri”, jawab ibu sambil tertawa kecil.
“Yasudah, nanti kalo akhir pekan, menginap dirumah tante ya. Tante disini hanya tinggal bersama Mbak Ana, adik tante. Nanti kalau kamu main, kita bikin kue sama-sama. Sekali-sekali juga boleh main ke toko tante”, ajaknya.
“Wah terimakasih banyak, Di. Semoga Rana nggak merepotkan ya”, timpal ayah.
Aku menyenggol tangan ayah sambil cemberut. Mereka tertawa melihatnya. Aku seperti sudah lama mengenal Tante Dian. Aku tak sabar belajar membuat kue bersamanya. Kue tersebut akan kuberikan untuk ayah, ibu, juga Sena. Ah, Sena lagi. Sena benar-benar tidak bisa dihubungi. Tiba-tiba handphone ku bergetar, ah itu pasti Sena!
Dugaan ku meleset. Sebuah pesan singkat dikirim oleh Mbak Sukma ‘Sena baik-baik saja Ran’.
Sena tak memberikan ku kabar. Sampai ayah dan ibu kembali ke Jakarta, Sena tetap tak mengabari ku. Satu minggu sudah Sena tak kunjung mengabari ku. Aku banyak bercerita dengan Mbak Sukma. Ia benar-benar pendengar yang baik.
“Harus kuat Ran”, sabdanya.
Aku mengangguk saat aku menelfon Mbak Sukma. Ia juga meyakinkan ku, bahwa Sena pasti akan menghubungi ku. Benar saja, esoknya Sena menelfon ku. Sena sangat berbeda. Suaranya datar dan tegas. Ia sama sekali tak menanyakan kabar ku. Ia hanya meminta maaf dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Jarak yang terlalu jauh menjadi penghalang baginya. Tangis ku pecah saat Sena berkata seperti itu. Sena hanya diam. Ia sudah tak menginginkan hubungan ini terus berjalan. Telfon ditutup begitu saja olehnya. Aku menangis sendiri di kamar kos. Bagaimana mungkin Sena tak mendukung ku disini. Aku kembali ingat sabda Mbak Sukma. Mbak Sukma benar.

Semarang, Agustus 2011

“Iya, aduk-aduk seperti itu Ran sampai semua bahan tercampur rata”, jelas Tante Dian.
Sudah hampir dua bulan aku di Semarang. Aku semakin lupa mengenai Sena. Aku merasa jauh lebih tenang bersama Tante Dian. Ia mengingatkan ku pada seseorang.
“Tante, engggg....”,
“Iya Ran? Mau ngomong apa kok ragu-ragu seperti itu?”, tanyanya.
“Anak tante bisa buat kue juga?”
“Hmm, sejak anak tante tinggal bersama bapaknya, tante jarang sekali bertemu dengannya. Mungkin hanya pada saat hari raya. Pernah sih beberapa kali, tante ajarkan ia membuat kue. Tapi tante nggak tahu apa ia terus melatih kemampuannya atau tidak”, jawabnya.
“Wah sayang banget ya tante, padahal tante jago banget buat kue”, kataku sambil mencetak adonan yang sudah kalis.
“Tante masih harus belajar kok. Makanya, kamu sering-sering kesini ya Ran, temenin Tante”, katanya.
Aku menjawabnya dengan sebuah anggukan. Tante Dian sudah seperti ibu ku. Ia sangat penyayang.
“Minggu depan, anak tante mau kesini. kamu ada acara nggak Ran?”
“Aku nggak ada jadwal kok tante minggu depan”
“Bagus kalau begitu, minggu depan kita bisa masak bareng anak tante”, ia tersenyum manis. Wajahnya ayu sekali.
Aku senang sekali bisa mengenal Tante Dian. Ia benar-benar baik. Pantas saja ibu ingin menitipkan aku dengannya. Minggu depan aku datang kembali ke rumah yang menurutku sangat nyaman itu. Pintu rumah Tante Dian terbuka lebar. Ku lihat ada dua sosok yang aku kenal membelakangi ku. Mereka duduk diruang televisi.  Mereka seperti....
“Loh Ran, kenapa diam di situ? Sini masuk”, suara tante Dian mengagetkan ku. Tante Dian mengajak ku masuk kedalam. Ia mengandeng tangan ku. “Ini anak tante, namanya Sukma. Ini pacarnya Sukma, Sena”.
Entah siapa yang menyembunyikan dari siapa. Semesta kini berputar. Aku dulu menitipkan Sena pada Mbak Sukma. Kini, aku dititipkan ibu oleh Tante Dian. Siapa yang tahu Mbak Sukma adalah anaknya Tante Dian. Kebetulan macam apa ini. Siapa pula yang tahu mereka berpacaran, entah sejak kapan. Jantungku rasanya berhenti berdegup. Memoriku berlarian ke beberapa bulan yang lalu. Saat Sena dan Mbak Sukma berdendang. Dengan seenaknya, memori ku sigap mengingat sabda Mbak Sukma. Siapa pula yang tahu, sabda Mbak Sukma hanya wacana belaka.
“Maafkan aku, Ran”, Mbak Sukma bersabda.

Monday, February 11, 2013

Kekasih Sejati


Aku memegang kartu undangan seraya mondar-mandir di dalam kamar. Badan ku terasa lemas. Aku mencoba menahan tangis dengan menggiggit bibir bawah ku. Namun usaha ku percuma. Air mata ku mengalir begitu deras. Aku duduk lemas di pojok kamar. Fikiran ku kacau. Antara harus datang ke acara tersebut atau tetap diam di rumah sambil mengirimkan doa. Aku manatap baju yang akan ku pakai. Baju hasil jahitan ibu. Aku memejamkan mata, mencoba mengikuti intuisi ku.
“Annisa”, panggil ibu diikuti suara ketukan pintu. Aku diam tak menjawab. Aku mencoba mengatur nafas ku agar ibu tak mengetahui aku sedang menangis.
“Annisa? Kamu sudah rapi belum?”, ibu kembali memanggil dan mengetuk kamar.
“Ya bu. Aku belum rapi”, jawab ku singkat.
“Yasudah, ibu tunggu ya, nis”, aku mendengar suara ibu menjauhi pintu kamar.
Aku menarik nafas panjang. Aku segera beranjak bangun dan bercuci muka. Ku kenakan baju pemberian ibu. Aku hiasi jilbab dengan warna sepadan. Jilbab pertama ku. Aku merasa cantik dengan baju dan jilbab ku. Baju sederhana yang diberikan ibu. Jahitan payet membuat baju putih ini semakin indah. Celana bahan berwarna hitam ku pilih untuk dipadankan dengan baju pemberian ibu. Aku meraih undangan diatas kasur kapuk ku. Ku susul ibu dan bapak yang sudah menunggu. Ku lihat bapak di luar sedang memanaskan kendaraan roda duanya. Tidak terlihat kesedihan yang ada padanya. Bapak tetap bersyukur dengan apa yang dimilikinya.
“Sudah rapi nis?”, bapak seperti tahu aku berdiri mengamatinya dari pintu rumah.
“Sudah pak”, balasku.
Bapak melihat ke arah ku. Ia tersenyum lebar. “Subhanallah, anak bapak cantik sekali”, bapak berjalan menghampiri ku.
“Aku baru saja mencoba pak, belum terlambat, bukan?”, kata ku sambil merapikan jilbab ku.
“Belum ada yang terlambat, nis”, bapak tersenyum senang. “Kamu pakai motor bapak ya nis”.
“Loh pak, jangan. Aku kuliah juga biasanya pakai motor bebek. Motor bapak kan masih baru. Motor automatic kesayangan bapak itu, bapak saja yang pakai bersama ibu”, aku menolak kunci motor yang diberikan bapak.
“Mulai hari ini, kamu pakai motor bapak, nis. Ke kampus juga pakai motor bapak ya. Jadi nggak terlalu capek”, bapak berkata penuh semangat.
Aku diam mendengar tawaran bapak. Selama ini, aku mencoba menyembunyikan keletihan ku. Bapak jauh lebih letih. Tapi bapak tidak ingin membagi keletihannya pada ku.
“Nis, kita memang berasal dari keluarga sederhana. Kita jauh dari kesempurnaan. Namun, jika kita sudah memiliki semua, apalagi yang akan kita cari”, bapak menasehatiku. Beliau tahu apa yang sedang aku rasakan. “Jangan hiraukan mereka yang hanya melihat segalanya melalui harta. Kamu, ibu, dan adik-adik mu jauh lebih berharga dari harta apa pun”.
Aku mendengar dengan baik nasehat dari bapak. Bapak benar. Hubungan ku dengan Abduh berakhir karena orangtua Abduh tak merestui hubungan kami. Dimata orang tua Abduh, aku tidak pantas menjadi pasangan hidup untuk Abduh. Apalagi, saat orang tuanya mengetahui keadaan keluarga ku.
“Sudah Nis, tak usah difikirkan. Jodoh itu ditangan Tuhan”, bapak mengelus kepala ku.
“Iya pak. Annisa mengerti”, aku memberikan bapak senyuman. Senyuman yang paling indah disore ini.
Praaaaaaaaaaaaaaang. Suara dari dalam rumah menganggetkan aku dan bapak. Aku berlari ke dalam rumah dan mencari sumber suara. Dapur. Aku berjalan cepat ke arah dapur.
“Ibuuuu, ibu baik-baik saja?” aku berjongkok dan membereskan pecahan kaca dari gelas.
“Ibu nggak kenapa-kenapa nis”, jawab ibu. Alisnya mengkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.
Iqbal, adikku yang masih duduk dibangku SMA membantu ku membersihkan pecahan kaca. Aku suruh ibu duduk saja diruang tamu bersama bapak. “Berikan ini untuk ibu, bal”, kataku menyodorkan segelas air hangat.
“Perasaan ku nggak enak, pak”, ibu memegang lehernya dan terlihat panik.
“Istighfar, bu. Insyaallah, semuanya baik-baik saja”, bapak mencoba menenangkan.
Aku menghampiri ibu dan bapak setelah serpihan kaca sudah dibereskan.
“Ibu dirumah saja”, kata ku seraya memberikan minyak angin kepadanya.
“Ibu ikut, Nis”, kata ibu tegas. “Iqbal, kamu jaga rumah ya, nak. Jaga adik mu, Baddar. Jangan lupa belajar dan kerjakan pekerjaan rumah”.
“Iya bu”, Iqbal menjawab setengah berteriak. Ia sedang dikamar bersama Baddar. Baddar masih duduk dibangku SMP. Iqbal sedang rutin mengajari adiknya yang sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional.
Aku pergi bersama ibu dan bapak. Bapak memboncengi ibu. Aku sendiri menggunakan sepeda motor bapak. Langit sudah gelap. Jalanan di Jakarta Selatan cukup ramai. Ya, maklum saja ini malam Minggu. Satu bulan lalu, malam seperti ini, Abduh datang ke rumah. Berbicara banyak hal bersama ayah dan ibu, memberikan banyak sesuatu untuk keluargaku. Bahkan, ia bermain dengan kedua adikku. Tapi tidak untuk malam ini.


Aku meraih undangan yang ada di tas ku. Ku lihat sekali lagi nama yang tertera di halaman paling depan. ‘Abduh & Dinar’. Aku pasti kuat. Aku menggenggam erat undangan tersebut. Ini bukan mimpi.
“Ikhlas, Nis”, ibu menghampiri ku. Kami masih berdiri di halaman parkir. Gedung yang disewa sudah ramai. Tamu undangan mulai berdatangan. Aku menjawab perkataan ibu dengan sebuah anggukan dan senyuman. Ibu dan bapak yang membuat ku kuat. Begitu juga kedua adik ku dan kerabat ku. Aku berjanji akan membahagiakan keluarga ku. Aku masih menyelesaikan skripsi. Aku akan cepat menyelesaikannya supaya tahun depan, aku tak perlu membayar uang kuliah. Uang hasil kerja sampingan ku bisa ku tabung untuk adik-adikku.
“Wah, Mbak Annisa, cantik sekali dengan jilbab mu”, kata saudara perempuan Abduh saat aku bertemu dengannya di meja tamu.
“Terimakasih dek, aku masih belajar mengenakannya”, jawabku.
Suasana di dalam gedung begitu ramai. Aku bertemu beberapa temannya Abduh yang ku kenali. Aku juga bertemu dengan sanak saudaranya. Ku berjalan menuju pelaminan bersama orang tua ku. Orang tua dari Abduh menyambut ramah keluarga kami. Entahlah, aku hanya tersenyum miris. Aku menjabat tangan Abduh dan memberikan selamat kepadanya. Tak lupa, aku menjabat tangan Dinar dan mengecup kedua pipinya. Aku berdoa dalam hati. Aku berdoa untuk Abduh dan Dinar. Aku bahagia melihat mereka bahagia. Sungguh. Aku merelakan mantan kekasih ku bersama perempuan lain. Aku ikhlas melihatnya. Aku yakin, Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan umatnya. Aku yakin, ada hikmah yang dapat diambil dari semua ini.
Dunia terasa berhenti saat malam ini. Makanan yang disajikan terasa hambar dilidah. Ku tengok sekeliling gedung mencari sahabatku. Ah, mungkin ia belum datang. Aku tak ingin berlama-lama disini. Aku mengajak ibu dan bapak untuk pulang.
“Annisaa!”, perempuan bertubuh mungil yang sejak tadi kucari, memanggil ku dari kejauhan.
Aku menoleh dan menghampirinya. Ku peluk erat tubuh mungilnya. “Nad”, aku memanggilnya lirih. Kami bertemu di luar gedung. Saat aku dan kedua orang tua ku akan pulang. Aku melepas pelukan Nadya dan menoleh ke arah ibu dan bapak. Ibu mengangguk ke arah ku memberikan isyarat akan pulang terlebih dahulu. Aku menghampiri ibu dan bapak. Ku kecup telapak tangan mereka.
“Hati-hati ya bu, pak”, kata ku.
“Kamu juga hati-hati Annisa”, ibu mengelus kepala ku. “Ibu duluan ya, Nadya”, sambungnya.
“Oh iya bu, pak, hati-hati dijalan ya”, jawab Nadya.
“Nis..kamu semakin cantik”, Nadya terlihat terkejut melihat ku dengan jilbab ku malam ini.
Aku hanya terseyum tipis. Aku tak bisa menyembunyikan kesedihan ku.
“Kamu terlalu baik untuk Abduh. Kamu pantas mendapatkan yang lebih darinya”, Nadya kembali memeluk ku.
“Terimakasih Nad”, hanya itu yang keluar dari mulut ku. Nadya, sahabat ku sejak  duduk dibangku SMA mencoba menenangkan ku. “Maafkan Dinar, Nis”, sambungnya. Ia seperti merasa bersalah. Dinar adalah teman kuliahnya. Mereka sama-sama belajar di perguruan tinggi yang sama, di fakultas yang sama, dan di jurusan yang sama.
“Ini semua bukan salah Dinar, dan nggak ada yang perlu disalahkan, Nad. Ini semua sudah suratan dari Tuhan”, jawabku.
“Kamu yang sabar ya, nis. Kamu hanya perlu waktu untuk menerima semua ini”.
“Aku sudah merelakan Abduh sejak kuputuskan untuk datang kesini”, tangis ku pecah dipelukan Nadya. Aku sendiri bertanya-tanya dalam hati. Air mata kebahagiaan atau kesedihan kah? Setiap kali aku berusaha meyakinkan diri ku juga ikut bahagia, air mata ini semakin tak tertahankan.
“Abduh akan menyesal telah memilih perempuan lain. Atau lebih tepatnya, ibunya yang akan menyesal?”, Nadya sedikit bercanda.
Aku tertawa mendengar kalimat terakhirnya. Ku pamerkan deretan gigi-gigi ku.
“Bareng yuk, Nis. Aku bawa mobil”, ajaknya.
“Nggak usah, aku bawa motor, Nad”, aku menunjukkan kunci motor ku.
“Baiklah, kalau begitu, besok aku kerumah mu Nis. Kangen sam Iqbal dan Baddar yang ganteng-ganteng hehehhehe”, tawanya.
Aku membalasnya dengan tawa. Kami berpisah di halaman parkir setelah berpelukan kembali. Aku merasa sangat tenang setelah bertemu dengan sahabat ku yang satu itu. Abduh, selamat menempuh hidup baru bersama Dinar. Kata ku dalam hati.


Annisa mengendarai sepeda motor milik Bapak. Dikendarainya dengan hati-hati. Itu adalah sepeda motor kesayangan bapak. Semakin malam, jalanan semakin ramai dengan kendaraan roda empat dan roda dua. Ia bersyukur masih bisa menikmati indahnya malam. Ia bersyukur masih memiliki keluarga dan kerabat yang sangat menyayanginya. Wajah mereka terus hadir di dalam benaknya, di sepanjang jalan itu. Ia jadi tak sabar ingin bertemu keluarganya dirumah.
Annisa berhenti di tepi jalan. Iqbal dan Baddar pasti akan senang. Dibelikannya martabak manis untuk kedua adiknya. Ia menatap motor milik bapak yang diparkir dekat tenda penjual martabak. Ah, bapak. Ia tersenyum bahagia. Ia berjanji dalam hati akan membantu bapak, ibu, dan kedua adiknya. Iqbal dan Baddar harus terus bersekolah.
Annisa melewati jalan yang berbeda untuk menghindari kemacetan. Ia melewati rel kereta di daerah Pasar Minggu. Wajah keluarga dan sahabatnya kembali  berkecamuk di benaknya. Ada wajah Abduh dan Dinar. Suasana digedung tadi kembali hadir. Bahkan bergabung dengan suara kereta api. Tuuut tuuuuut. Suara itu semakin dekat. Tapi, wajah mereka jauh lebih dekat. Annis seperti tak mendengar suara kereta api yang berasal dari arah kanannya. Tuuuuuuut tuuuuuuuuuuuuuut tuuuuuuuuuuuut tuuuuutuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut!!!!!!!!!!!! Seketika, baju dan jilbab putih yang dikenakan Annisa berubah warna menjadi merah.


Ibu menangis tak henti-henti. Bapak, Iqbal, dan Baddar juga tak kuasa menahan tangis. Nadya benar-benar datang keesokannya. Annisa pergi dengan begitu cantik dengan jilbabnya. Ia pergi untuk kekasih yang sebenarnya. Ia pergi untuk bertemu kekasih sejatinya.