Sunday, December 8, 2013

Sang Juara

Meskipun laporan manggil, tapi cerita ini udah teriak-teriak diotak dan minta ditulis. Selamat membaca J

Saya mulai bertemu dengan tempat ini sekitar bulan Maret. Belum cukup lama mengenal tempat ini. Namun, disini, saya merasakan semangat dari mereka. Doa yang dipanjatkan menunjukkan kesungguhan dari diri mereka semua. Saya merasakan secercah cahaya di masa depan yang ada ditangan mereka. Pabuaran, Sanggar Juara, merupakan kombinasi yang saling melengkapi kebutuhan mereka. Di tempat ini, anak-anak belajar mengenai agama Islam, mungkin kita biasa mengenal dengan TPA (taman pendidikan al-qur’an), terkecuali hari Sabtu, Sanggar Juara datang mencoba berbagi ilmu, berbagi cerita, berbagi mimpi. Setiap kali kakak-kakak Sanggar Juara datang, selalu ada yang maju ke depan untuk memimpin do’a. Rofi, salah satu murid yang masih duduk dibangku kelas satu (pada waktu itu) biasanya memimpin doa. Namun, kini rofi tak lagi memimpin doa, bahkan ia tak pernah datang setiap hari Sabtu. Ia pun tak datang ke sekolah. Pernah sesekali ia datang, tapi itu sangat jarang. Berbeda dengan adik Rofi, ia tetap bersekolah dan datang keTPA serta Sanggar Juara.


Selidik demi selidik, anak laki-laki yang meraih juara 1 saat duduk dibangku kelas satu tersebut ternyata memiliki masalah di dalam bidang ekonomi. Orang tua Rofi bekerja sebagai pengikat bayam. Pengahasilan yang diperoleh dari mengikat bayam (pagi hingga siang hari) sekitar Rp 7.000,00-Rp 11.000,00. Ibu rofi sudah tidak mampu memberikan uang jajan kepada Rofi, apalagi buku tulis sehingga Rofi tidak dapat bersekolah lagi. Kemauan bersekolah dan TPA serta Sanggar Juara masih ada didalam diri Rofi. Namun sayangnya, hampir setiap pagi, ketika keluarga tersebut tak lagi memiliki uang, ibu Rofi terpaksa tidak membangunkan Rofi, pun teman-temannya datang menjemput Rofi. 

Rofi, penerus bangsa ini seharusnya tidak berhenti sekolah begitu saja. Rofi dan anak-anak lain berhak mendapatkan pendidikan. Rofi, sang calon presiden, harus tetap bersekolah, apapun yang terjadi, Semoga Sanggar Juara melalui bantuan dari para donatur dapat membantu Rofi :")

Monday, December 2, 2013

Pencipta dalam Diri


Buat kalian-kalian seorang mahasiswa, pasti tau tentang PKM singkatan dari Proposal Kreativitas Mahasiswa. Saya dari dulu pengeeeen banget bikin PKM, tapi merasa nggak ahli dalam hal itu. So, kemarin sempet membuat proposal tersebut, tapi itu cuma sebagai anggota.
Sekarang, mumpung ada ide buat bikin PKM-GT (Gagasan Tertulis), saya mencoba mendiskusikan dengan salah satu dosen di departemen.  “Sebenarnya sudah banyak sekali mahasiswa yang ingin membuat PKM-GT. Tapi, kebanyakan dari mereka hanya mau saja, tanpa memikirkan lebih lanjut manfaat dari gagasan tersebut.  Selain itu, kendala yang biasa dialami adalah bagaimana menuliskan ide-ide kreatif tersebut secara ilmiah, sedangkan penulisan seperti itu belum menjadi sebuah habit di lingkungan kita, papar dosen saya”. Hampir 100% beliau benar. Kesibukan-kesibukan laporan menjadi hambatan bagi sebagian orang sehingga untuk turun langsung ke masyarakat pun dilupakan. Kita-kita hampir nggak tau nih masalah yang sesungguhnya dialami oleh masyarakat yang sangat membutuhkan solusi dari kaum muda.
Balik lagi ke PKM, yang pada intinya menciptakan sesuatu yang dapat bermanfaat untuk orang banyak. Penciptaan tersebut ternyata nggak gampang. Apalagi, ketika dlihat dari keasliannya (orisinil). Yang orisinil itu lah yang nggak instan. Butuh waktu yang lama untuk mewujudkannya. Tapi, hal pertama yang harus dibuat ialah desain. Oh ya, tahu siapa nama pencipta Dufan? Saya juga baru tahu hari ini. Ciputra adalah nama dari seseorang yang membuat Dufan. Ketika pertama kaiinya ia ke Ancol, ia melihat pantai yang sangat kotooor sekali, begitu juga dengan lingkungan di daerah tersebut. Saat itu, di daerah Ancol dijadikan tempat pembuangan mayat (sebelum tahun 1945). Kemudian, ia ingin membuat sebuah ‘Disney Land’ di Ancol, maka apa yang kita lihat dan kita  nikmati saat ini adalah sebuah desain yang telah lama dibuat oleh Ciputra.
Jadi, pada intinya, buatlah gagasan yg dapat bermanfaat untuk orang banyak dan saat hasilnya dilihat, orang-orang akan mengingat kita. Selain itu, ada beberapa kiat yang diajarkan oleh dosen saya untuk menciptakan sesuatu yang orisinil. Untuk gambaran jelasnya,kiatnya adalah sebagai berikut:
-          Berilah kebebasan diri dalam memilih atau menentukan apa yang ingin kita ciptakan, tanpa harus ada payung ketakutan
-          Buatlah desain dari apa yang ingin kita ciptakan. Buatlah, meskipun itu memerlukan waktu yang lama
-          Implementasikan pada masyarakat

Ternyata, kiat-kiat tersebut nggak susah, hanya saja, tanya dalam diri kita, apakah kita mau melakukannya? Jadi, selamat berkreasi untuk kaum muda, dimana pun, kapan pun. Jangan hanya karena ada event PKM ini kita baru mencari ide. Ciptakanlah ide-ide disetiap hari kita J

Saturday, September 28, 2013

Salam dari kota hujan

Selamat datang kepala dua. Rasanya saya ingin terus menjadi muda, saya belum melakukan apa-apa 20 tahun ini. Rasanya pun sudah tak pantas diberi hadiah dikepala dua... tapi segalanya menjadi berarti karena orang-orang tersayang. Kemarin itu indah, rasanya teduh. Tidak perlu keluarga datang ke kota hujan lagi, ingat, ini kepala dua. Meski orang tua saya menanyakan kenapa saya tidak pulang, itu karena saya masih ada tanggung jawab disini. Ada satu yang paling saya rindu, teman saya, teman lama saya. Saya merasa dia hilang, saya sangat merindukannya. Meski ia tidak rindu. Iya saya paham, ia tak merindukan saya.

Saya hanya ingin mendengar ia kembali bercerita, bukan memberi apa-apa. Sungguh. Saya hanya ingin kami kembali bercerita, bahkan kembali berdoa. Mungkin setahun lalu itu waktu yang singkat bagi kami. Tapi saya sangat bersyukur bisa mengenalnya. Tapi saya rindu, rindu yang tak tergantikan dengan foto, yang tak tergantikan dengan ucapan, yang tak tergantikn lewat pesan. Tapi apa daya, semesta seperti tak mengizinkan kami bertemu, bahkan bercerita seperti dulu. Saya mungkin dulu salah, penyebab semesta tak mengizinkan saya mendengar ceritanya kembali. Sungguh saya rindu teman saya yang ini, banyak pelajaran yang ia ajarkan kepada saya, tanpa ia ketahui. Saya pun belajar tentang makna kerinduan semacam ini darinya. Saya mengerti apa yang harus saya lakukan, itu pun darinya.

*Baik-baik disana ya semoga selalu dalam lindungan Allah.. aamiin.

Saturday, September 7, 2013

Revolusi Biru, untuk Indonesia yang lebih Kompetitif di Asia Pasifik

Revolusi Biru,
 untuk Indonesia yang lebih Kompetitif di Asia Pasifik

            Revolusi biru, apakah makna dari sebuah revolusi biru? Lalu, apa bedanya revolusi biru dengan revolusi hijau? Mungkin, kita sudah lama mengenal revolusi hijau. Program revolusi hijau merupakan perubahan kondisi penyuluhan pertanian yang semula menekankan pada bimbingan kepada petani dalam berusahatani yang baik, menjadi tekanan pada alih teknologi, yaitu mengusahakan agar petani mampu meningkatkan produktivitasnya dan produksinya, serta menekankan pada tercapainya target produksi padi, baik target nasional, daerah maupun lokal (Tjitropranoto 2003).
Revolusi biru memiliki makna meningkatkan produktivitas perikanan. Revolusi biru merupakan sebuah gagasan dari Kementerian Perikanan dan Kelautan atau KKP. Perbedaan revolusi biru dan hijau terlihat jelas. Jika revolusi hijau menekankan pada pertanian, revolusi biru menekankan pada bidang perikanan. Seperti yang telah kita ketahui, satu per tiga bagian dari Indonesia terdiri atas perairan. Banyak hal yang dapat diperolah dari kekayaan perairan Indonesia, misalnya rumput laut, merupakan salah satu komoditas perairan laut. Indonesia, sebagai negara maritim, melalui ABAC dalam APEC CEO Summit, diharapkan bisa memulai program revolusi biru dengan komoditas rumput laut.  
Rumput laut dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal yang dapat meningkatkan perekonomian Indonesia sehingga Indonesia lebih kompetitif  didalam Asia Pasifik. Di Indonesia, pemanfaatan rumput laut sudah mulai berkembang. Mulai dari pembudidayaan rumput laut hingga pengolahan rumput laut. Akan tetapi, Indonesia masih tetap mengimpor olahan hasil rumput laut tersebut dari negara lain. Rumput laut mengandung kadar iodium dan serat yang tinggi. Menurut Winarno (1990), kandungan iodium pada rumput laut yaitu 0,1 – 0,8% pada ganggang cokelat dan 0,1 – 0,15% pada ganggang merah. Kebiasaan mengonsumsi rumput laut dapat menuntaskan masalah Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) di Indonesia, salah satunya dengan cara menggunakan rumput laut untuk membuat selai. Penggunaan rumput laut untuk selai dapat meningkatkan kadar iodium (Astawan et al 2004).
Selain pembuatan selai dari rumput laut, terdapat pula minuman fungsional dari rumput laut. Minuman fungsional dari rumput laut telah diteliti oleh Mappiratu dan Masyahoro (2009). Peningkatan mutu dari minuman fungsional tersebut hanya perlu ditingkatkan mutu dan fungsinya. Peningkatan mutu dilakukan melalui penggunaan aroma buah, sedangkan peningkatan fungsi dapat dilakukan melalui penggunaan pemberi warna (Mappiratu 2010).
Contoh olahan dari rumput laut yang lainnya ialah mie rumput laut. Saat ini, mie merupakan makanan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Riset mie rumput laut juga telah dilakukan oleh Wirjatmadi et al (2002). Hasil riset tersebut perlu ditingkatkan lagi fungsinya dalam pencegahan dan penanggulangan berbagai penyakit. Penambahan minyak ikan pada mie rumput laut dapat meningkatkan kecerdasan dan menurunkan kolesterol darah terutama kolesterol jahat (LDL). Hal ini disebabkan minyak ikan mengandung EFA dan DHA. Penambahan daging ikan gabus pada mie rumput laut dapat menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes karena kandungan protein albumin yang tinggi terdapat pada saging ikan gabus (Mappiratu 2010).
            Contoh-contoh pemanfaatan rumput laut tersebut tentunya dapat meningkatkan  perekonomian Indonesia. Globalisasi merupakan tantangan besar bagi Indonesia untuk memperkenalkan olahan rumput laut hasil negeri. Tantangan tersebut tidak hanya pada pengenalan di negara-negara Asia Pasifik, namun juga di negara Indonesia sendiri. Globalisasi tentunya juga dapat menjadi suatu wadah atau kesempatan bagi Indonesia untuk memperkenalkan olahan dari rumput laut. Suatu cara yang dapat dilakukan ialah menjadikan olahan-olahan tersebut dalam industri modern.
            Di zaman yang serba modern ini, masyarakat menuntut sesuatu yang instan, cenderung konsumtif. Hal ini memang tidak dapat dihindari. Namun, hal tersebut merupakan sebuah peluang untuk memperkenalkan olahan rumput laut. Industri rumput laut yang modern semestinya harus memasuki kota. Jika masyarakat Indonesia konsumtif bagi produknya sendiri tentu tak perlu dikhawatirkan.
            Pertanyaan besar untuk hal ini ialah: apakah bisa masyarakat Indonesia menggantungkan dirinya pada produk dalam negeri? Ya, tentu saja bisa. Melalui penjamuran suatu produk tersebut. Pemunculan trend dari penggunaan produk tersebut merupakan langkah yang tepat.       
            Konsumtif dan trend merupakan sebuah kombinasi dan kesempatan baik bagi Indonesia. Kombinasi tersebut akan menghasilkan sebuah “Seaweed Houses”, sebuah industri modern dari rumput laut. Selai, minuman fungsional, dan masih banyak lagi hasil olahan rumput laut dapat diperkenalkan disini. Pembangunan sebuah “Seaweed Houses” tentunya menjadi bagian impian dari revolusi biru. Konsepnya sederhana. “Seaweed Houses” merupakan pusat olahan hasil rumput laut. Banyak sekali hasil olahan rumput laut yang belum diketahui oleh masyarakat Indonesia itu sendiri. Kebanyakan hasil riset pun belum terealisasikan menjadi sebuah industri modern. “Seaweed Houses” juga dapat meningkatkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia dengan berwirausaha dari hasil laut negeri kita sendiri. Kemudian, dari mana rumput laut tersebut diperoleh hingga dapat diperkenalkan di “Seaweed Houses”?
            Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan, ujung tombak dari revolusi biru ialah perikanan budidaya. Budidaya rumput laut pun telah berkembang di negara kita. Di Sulawesi Tengah, kegiatan budidaya rumput laut dimulai pada tahun 1990 dalam skala kecil. Tahun 1997, di Kepulauan Samaringga berhasil membudidayakan rumput laut jenis Eucheuma cottonii (Fauziah, 2009; Hamja, 2009). Selain itu, berkembang pula budidaya rumput laut jenis Gracilaria sp., terutama di daerah Kabupaten Morowali. Produksi rumput laut Eucheuma cottonii dan Gracilaria sp. di Sulawesi Tengah pada tahun 2005 mencapai 244.133 ton basah. Produksi tersebut menjadikan Sulawesi Tengah menempati urutan ketiga penghasil rumput laut terbesar di Indonesia setelah Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur.
            “Seaweed Houses” merupakan cita-cita yang dapat terwujud. Tentunya, sangat diperlukan dukungan dari ABAC dan pemuda Indonesia, dalam APEC CEO Summit. Pemuda Indonesia sebagai promotor memiliki peran yang amat penting. Saat ini, saya sebagai mahasiswa Perikanan dan Kelautan, tentunya harus mendorong teman-teman pemuda lainnya untuk mencintai laut Indonesia, mencintai produk Indonesia. Selain mencintai kekayaan laut, memanfaatkan hasil laut, melakukan kegiatan perikanan budidaya, hal yang dapat dilakukan oleh pemuda untuk mewujudkan Indonesia yang lebih kompetitif di Asia Pasifik, yaitu dengan cara memupuk jiwa kewirausahaan sejak dini. Awal tahun 2013, saya bersama teman-teman lainnya mencoba membuat selai rumput laut yang didiversifikasi dalam makanan, yaitu bakpao. Ya, sebuah permulaan untuk “Seaweed Houses”, bagian dari revolusi biru. Tulisan ini juga merupakan bagian dari revolusi biru saya, untuk ABAC, untuk Indonesia yang lebih kompetitif di Asia Pasifik.

DAFTAR PUSTAKA
Astawan Made, Sutrisno Koswara, Fanie Herdiani. 2004. Pemanfaatan rumput laut (Eucheuma cottonii) untuk meningkatkan kadar iodium dan serat pangan pada selai dan dodol. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan XV (1): 61-69.
Fauziah N. 2009. Ekstraksi dan Karakterisasi Karaginan dari Rumput Laut Eucheuma cottonii [Skripsi]. Palu: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNTAD.
Hamja.  2009.  Mutu Rumput Laut Eucheuma cottonii di Kabupaten Morowali dan Potensi Limbah Karaginan Sebagai Pakan Ternak [Tesis]. Palu: Sekolah Pascasarjana Universitas Tadulako.
Mappiratu dan Masyahoro. 2009. Kajian Budidaya dan Teknologi Pengolahan Rumput Laut di Perairan Teluk Palu.  Kerjasama BAPPEDA dan Penanaman Modal Kota Palu dengan Pusat Kajian Sumberdaya Posisir dan Lautan Tropis (PKSPL – TROPIS) Fakultas Pertanian UNTAD, Palu.
Mappiratu. 2010. Strategi riset rumput laut untuk produksi produk spesifik daerah Sulawesi Tengah. Media Litbang Sulteng 3 (2): 91-95 ISSN : 1979 – 5971.
Tjitropranoto. 2003. Penyuluhan Pertanian: Masa Kini dan Masa Depan dalam I Yustina dan A Sudradjat (eds). Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan: Didedikasikan kepada Prof. Dr. HR Margono Slamet. Bogor: IPB Press. 
Winarno. 1990. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Jakarta: Sinar Pustaka Harapan.
Wirjatmadi B, M Adriani, S Purwantil. 2002. Pemanfaatan rumput laut (Eucheuma cottonii) dalam meningkatkan nilai kandungan serat dan yodium tepung terigu dalam pembuatan mi basah. Jurnal Penelitian Medika Eksakta 3 (1): 89 – 104.



Catatan: Tulisan ini diikutsertakan dalam ABAC Writing Competition 2013

Saturday, April 20, 2013

Pilih Pasar Kaget atau Belajar?

 Mungkin masih ingat mengenai postingan saya tentang Sanggar Juara. Pagi tadi, saya baru saya turun lapang ke Desa Situ Leutik di derah Dramaga. Kami datang terlambat, lebih cepat dari keberadaan pasar kaget di daerah Bara.

Bara adalah sebuah nama daerah yang terletak disekitar kampus. Disetiap hari Minggu, selalu ada pasar kaget di Bara. Sekitar pukul 6 mungkin sudah ramai sekali. Adanya pasar kaget ini menjadi ladang usaha bagi masyarakat sekitar dan kadang juga mahasiswa. Mahasiswa yang sedang membutuhkan dana kerap menjajakan dagangannya di pasar kaget tersebut (misal: baju bekas), atau kadang menawarkan dagangan untuk para pengunjung yang senam (re: makanan dan minuman). Menurut saya, hal tersebut merupakan hal positif yang tidak ada salahnya jika dilakukan. Uang di pasar kaget ini mungkin akan terus berputar disitu-situ saja. Subjeknya adalah mahasiswa, pedagang, dan pengunjung. Berbicara soal pengunjung, anak-anak di Desa Situ Leutik adalah anak-anak yang ingin menjadi bagian dari pengunjung tersebut. Saya tidak merasa keberatan. Tapi, jujur, saya merasa sedih ketika saya datang ke sekolah Situ Leutik, dan anak-anaknya tidak ada karena mereka semua ke pasar kaget.

Ya, saya kaget karena pasar kaget. Betapa sedikitnya hasrat mereka untuk belajar, betapa sedikitnya hasrat para ibu untuk mengajak anaknya belajar. Miris. Terlebih desa Situ Leutik terletak di daerah kampus. Saya pun miris, saat perjalanan menuju Sekolah Situ Leutik, saya lihat ebberapa remaja, yang berpakaian tidak senonoh. Mereka adalah bagian dari penerus bangsa. Anak-anak bisa saja mencontoh para remaja yang berada didekat lingkungannya.

Kembali lagi mengenai pasar kaget. Entah apa yang anak-anak cari disana. Saya sedih sekali, bahkan saat kami datang pun, mereka justru kabur. Mungkin ini juga merupakan teguran bagi para mahasiswa, atau penerus bangsa, di zaman yang seperti ini, kita harus sekreatif mungkin untuk mengajarkan anak-anak agar mereka tidak bosan. Kita harus dapat bersaing dengan faktor-faktor yang dapat menurunkan niat belajar anak-anak. Dan, bukan salah pasar kaget, bukan salah anak-anak. Bisa jadi budaya. Ya, pendidikan karakter yang mungkin adapat mengubahnya. Ketika kita mengetahui lingkungan mereka, bagaimana mereka dididik oleh orang tuanya, sudah saatnya kita membantu anak-anak agar memiliki karakter yang baik sehingga budaya apa pun itu yang sedang berjamur tak menjadi budaya yang harus diikuti.

Selamat mengajar untuk kamu yang ingin mengajar,

Salam.

Friday, April 19, 2013

Intuisi dan Sanggar Juara


“Kak Syifaaaa!!!”, anak kecil itu berteriak menghampiri perempuan yang berjalan ke arahnya.
Ku lihat, perempuan itu menanggapinya dengan pelukan hangat. Aku memperhatikan keduanya. Anak-anak yang lain ikut menghampiri perempuan itu. Mereka berteriak kegirangan. Perempuan itu seperti membawa mainan bagi mereka.
“Yuk masuk kelas!”
Perempuan itu mengajak anak-anak masuk ke dalam kelas. Sekolah hari ini libur. Ya, ini hari Sabtu. Tapi, hari ini tetap ramai dengan anak-anak kecil yang sepertinya menanti perempuan itu disetiap pekan. Sekolah ini berada di salah satu Desa di Kabupaten Bogor. akses untuk ke sekolah ini tidak terlalu sulit. Aku melihat sekeliling sekolah. Hanya ada beberapa pintu kelas saja, sekitar delapan atau sepuluh kelas. Perempuan itu masuk ke dalam kelas diikuti yang lainnya.
“Gia, lihat ke arah sini!”
Perempuan itu memanggil salah satu dari mereka dan mengarahkan lensa kamera ke arahnya.
Aku memperhatikan perempuan yang sudah akrab dengan mereka, ku dengar tadi namanya Syifa.
Aku tersenyum melihatnya. Perempuan itu mengingatkan ku pada satu sosok.
Aku memperhatikan hiruk pikuk di dalam kelas. Mereka asyik berbicara satu sama lainnya. Beberapa juga berbicara dengan kakak-kakak yang datang. Suasana kelas cukup ramai. kursi kelas hampir penuh oleh anak-anak yang tidak berseragam. Ya, ini Sabtu. Ini merupakan kegiatan mengajar yang dilakukan oleh suatu acara di kampus ku. Hari ini, aku mencoba menjadi volunteer.
“Jadi, kalian nggak boleh buang sampah sembarangan lagi karena akan menimbulkan bau yang akhirnya menjadi sarang penyakit”, seorang pembicara menjelaskan kepada anak-anak. Ditampilkannya gambar-gambar yang menarik untuk mereka.
Mereka semua mengangguk kompak, meskipun umur mereka berbeda-beda. Aku berkenalan dnegan slaah satu darinya, ia duduk di bangku kelas 4. “Rara teh”, jawabnya ketika aku menanyakan namanya.
Aku tersenyum ke arahnya. Rambutnya yang lurus dikuncir seperti ekor kuda. Ia berbisik-bisik dengan teman sebelahnya dan kemudian tersipu-sipu. Aku tertawa melihatnya dan mencoba mengabadikan momen tersebut. Kegiatan mengajar di sekolah ini berlangsung singkat. Sebagai penutup, kak syifa meminta agar mereka menampilkan sebuah nyanyian di depan kelas. Dua aorang anak perempuan mencoba menunjukkan dirinya. Aku tidak terlalu mengerti lagu yang mereka nyanyikan. Yg aku dengar, mereka menyebut-nyebut kata ‘banana’. Aku hanya mengambil gambar mereka dan tak sempat mengambil videonya, ah sayang sekali.


Saat kegiatan usai, aku mencoba melihat sekeliling kelas. Anak-anak memang kreatif. Ku lihat gantungan-gantungan buatan tangan mereka sendiri terurai dijendela-jendela kelas. Aku membantu yang lainnya membereskan kursi-kursi yang telah dipakai. Beberapa kursi harus dikembalikan ke kelas sebelah. Ku angkat satu kursi ke dalam kelas sebelah. Aku melihat kerajinan tangan yang lebih banyak didalam kelas ini. Rara, anak perempuan yang tadi berkenalan dengan ku menghampiriku.
“kamu bisa bikin ini?”, tanya ku sambil menunjuk burung-burung kertas yang terpajang di jendela.


“bisa teh”, jawabnya seraya tersenyum
“Wah...hebat. siapa yang ngajarin rara?”, tanya ku lagi
“Bu guru”, ia menjawab tanpa melihat ke arah ku, tangannya asyik bergerak memainkan kertas bekas yang akan dijadikn burung-burung kertas.
Ia memberikan ku burung-burung kertas kemudian pergi begitu saja. Aku mengambil burung-burung kertas dan menyimpannya di dalam tas. Ku tinggalkan ruang kelas dan kembali beraur dengan yang lain.  
Aku berfoto bersama yang lain dihalam sekolah. Kebanyakan dari mereka berasal dari jurusan komunikasi. Ku abadikan sudut-sudut di sekolah itu, entah kenapa sekolah ini amat berkesan bagi ku. Rasanya aku ingin kembali kesini dan lebih dekat dengan anak-anak disekitarnya.
Kami berjalan menuju kampus melewati sawah dan kebun. Berbeda saat kami datang kesini, ya, menggunakan angkutan umum.
“Wah, aku baru tahu loh kita bisa lewat sini!”, aku memasang muka antusias
“Kapan-kapan ikut kita lagi aja ya!”, ajaknya. Tapi ia bukan syifa.
Aku menggangguk seraya tersenyum. Sesekali kulirik syifa, ia asyik dengan kameranya.
Aku tiba di asrama kampus setelah satu jam berjalan, ditambah dengan mampir kesana-kemari. Badan ku letih bukan main. Ku ambil burung kertas yang tadi, ku letakkan di atas meja belajar. Burung kertas itu terus tergeletak disana.
Meja belajar ku semakin berkesan dengan satu burung kertas. Ku lihat, burung itu telah nampak berdebu. Entah kenapa aku tak ingin membuangnya. Warnanya pun sudah usang. Sudah berbulan-bula burung itu tergeletak disana. Aku mencoba mengingat apa yang sempat diceritakn oleh anak-anak di tempat ku menjadi volunteer. Ada yang bercerita bahwa mereka akan tampil di kampus, entah acara apa. Aku benar-benar lupa.  
Sekian lama burung kertas itu berada di meja belajar ku. aku tetap belum membuangnya meski berdebu.
 Sejak aku sibuk dengan beberapa tugas, aku hampir mengubur keinginan ku untuk mengajar. Keinginan ini kembali muncul saat bertemu anak-anak kecil dikantin. Aku mencoba mendaftar menjadi tenaga pengajar non volunteer di salah satu tempat les. Sayang sekal, belum rezeki.  
Oh ya, ada satu kegiatan yg menurut ku bagus untuk dilakukan. Ya , kepo. Aku sering sekali memantau akun tweet kampus untuk mendapatkan info-info. Hasil dari kepo tersebut, aku memfollow Sanggar Juara, sebuah komunitas yang berbasis pendidikan dan lingkungan. Aku mencari-cari info mengenai sanggar juara, melalui tumblr, bahkan mengontak untuk menjadi volunteer, tapai sayang aku tidak mendapat respon.  Aku menunggu sampai tiba open recruitment dari Sanggar Juara. Dan.............................aku masuk!
Kegiatan mengajar Sanggar Juara berlangsung disetiap pekan. Dihari Sabtu, SJ mengajar di Desa Pabuaran. Sementara itu, di Hari Minggu, SJ mengajar didaerah Situ Leutik. Aku hanya bisa datang pada hari Minggu untuk turun lapang perdana ini. Kami berjalan kaki melewati sawah dan kebun. Sesampainya disana, ternyata sekolah tersebut adalah sekolah yang pada waktu itu aku datangi. Anak-anak berlarian menghampiri kakak-kakak yang sudah mereka kenal sebelumnya. Saat masuk didalam kelas, mereka menyanyikan lagu “Open Banana”. Aku tersenyum selama kegiatan berlangsung. Mungkin ini yang dapat disebut dengan intuisi. Ya, pada dasarnya, kita memang memiliki kewajiban untuk mencari dan berhak mendapatkan apa yang telah kita cari. 


Friday, April 12, 2013

Untuk Calon Ibu


Ia datang bersama seorang bapaknya. Sudah jelas pasti itu ayahnya. Digandengnya tangannya seraya membawakan tas punggung. Ia masih sangat kecil, mungkin masih duduk di Taman Kanak-kanak. Aku memperhatikan ia yang begitu menggemaskan. Blue jeans yang dikenalan disepadankan dengan kaos mungilnya. Sepatu ketsnya mendukung aktifitasnya hari ini.

“Duduk sini”, samar-samar ku dengar ayahnya mengajak ia duduk di bangku sebelah.

Ia mengangguk angguk dan mencoba duduk manis. Dibukanya menu makanan yang ada di hadapannya. Aku berlagak sibuk sambil sesekali memperhatikannya.

“Mau roti bakaaaaaaaaar”, kayanya sambil menunjuk gambar roti bakar dengan taburan keju

“hmm...masa roti? Nasi aja deh”, jawabnya membuka-buka halaman menu

Aku tersenyum mendengar ucapan sang ayah. Ada satu hal yang perlu diketahui seorang bapak, bukan hanya seorang ibu. bahwasanya roti terbuat dari karbohidrat, sama seperti nasi. Hanya saja, jumlah karbohidrat pada nasi sedikit lebih bnayak dibandingkan dengan roti.
Aku menikmati hidangan ku yang datang. Teh tubruk menjadi teman yang lengkap dengan hidangan kali ini. Restoran sore ini cukup ramai, beberapa orang berdatangan dan memesan roti bakar. Ku lihat pelayan yang mondar mandir membawa roti bakar diatas nampannya.
Hidangan ku sudah habis. Tapi entah mengapa aku tak ingin beranjak pergi. Niat ku untuk berbelanja di salah satu mall yang ada didaerah Bogor tiba-tiba saja hilang.
Ku tengok meja sebelah. Sang ayah sedang berusaha menyuapi ia. Ia tak mudah untuk diam. Seringkali beranjak dari kursinya dan berlari ke etalase mainan yang ada direstoran tersebut. Mungkin mainan tersebut sangat unik n=baginya di era ini. ya, restoran dengan nuansa jadul ini juga menjual beberapa barang-barang lama dan mainan-mainan lama. Aku suka. Disini, tersedia mainan congklak, mobil-mobilan dari kayu, masak-masakan dari eceng gondok, dan segala sesuatunya yang berbau hand made. Oh ya, masih ingat cokelat ayam jago? Restoran ini menjualnya. Mungkin dulu dapat dijumpai dengan harga 500 rupiah. Tapi sekarang, disini dijual seharga 13000 rupiah per 3 bungkus.  Aku tadi sempat melihat-lihat etalse bagian makanan-makanan yang ngetrend dizamannya.
Aku kembali melirik sebelah meja yang menurutku lebih menarik dari restoran ini. ku lihat anak itu melepas sepatunya dan menaikkan kakinya di kursi. Aku tersenyum melihatnya. Ia yang menurutku calon ganteng tersipu malu dan menutup muka dnegan bantal yang ada dikursi. Satu hal yang menjadi pertanyaan ku adalah: dimana ibunya?

Ku lihat ia sudah tak mau menyantap satu sendok yang diberikan sang ayah. Sang ayah mencoba memaksanya tapi ia tak mau dipaksa. Di biarkannya satu piring besar nasi goreng tergeletak di mejanya. Sang ayah mengerjakan sesuatu dan ia kembali berlarian di dekat etalase mainan.  Satu hal yang terbesit dipikiranku: mungkin ibunya akan datang.
Aku bengong sambil menghabisi teh tubruk yang menjadi andalan restoran ini. mata ku mengarah pada pintu masuk restoran. Seorang perempuan berbaju batik dan kerudung cokelat datang menghampiri meja sebelahku. Dicium dan dipeluknya ia. Ah benar saja. Ibunya datang. Ku tebak, ibunya pasti baru saja pulang kerja. Biasanya, orang kantoran mengenakan baju batik di Hari Jumat.

“Gimana seneng nggak jalan sama ayah?”, kata sang ibu sambil duduk di depan ayah dan ia.

Aku tak mendengar jawaban dari ia. Ia menarik tangan ibunya, mengajak sang ibu melihat-lihat mainan. Kemudian mereka kembali lagi ke ayah dan ketiganya asik mengobrol. A simple happy. Di sudut meja sana kuliah juga seorang ayah bersama seorang anak laki-lakinya. Satu piring roti bakar disantap berdua. Sesekali sang ayah memeluk anaknya. A simple happy. Kata ku lagi dalam hati. Aku mencoba menebak lagi kemana ibunya. Mungkin sedang berbelanja. Tapi aku tak sempat melihat ibunya. Aku harus segera pulang. Aku keluar dari mall menuju terminal. Duduk di deretan 2 kursi di bis adalah pilihan yang tepat ketika pulang sendirian. Aku masih teringat kebahagiaan kecil yang tadi. Segala sesuatunya memang akan terasa menyenangkan jika kita menikmatinya.

“Halo na, ini ibu”, ku dengar perempuan disebrang ku berbicara melalui telefon genggamnya.

Ku rasa, suaranya cukup terdengar disekitarnya. Nada suara perempuan itu begitu menggebu.

“Tadi kamu pakai tempat minum ibu yang Starb*cks? Kok di pake sih? Tadi tuh ibu taro disitu supaya dicuci”, katanya dengan nada tinggi.

Suara disebrang telefon menanggapinya.

“Ya ibu kan biasanya pakai itu na. Kamu tuh, kenapa dipakai sama kamu. Ibu beli itu mahal”.

“Ya masa nggak dicuci-cuci. Kamu taro sekarang, simpen. Mahal itu harganya”, sambungnya, nada suaranya semakin tinggi dan semakin terdengar di bis.

Aku melirik ke arah perempuan itu. Tak ada salam, tak ada kata-kata yang menunjukkan kasih sayang. Mungkin saat sampai dirumah, tak ada pelukan dari ibunya, tak ada ciuman dari ibunya. Sebuah keterbalikan dengan kejadian di restoran tadi. Bahwasanya ada yang lebih penting dari sekadar tempat minum mahal. dan tak selamanya segala hal dapat dibeli dengan uang. Apalah arti sebuah tempat minum mahal. untuk kamu yang akan menjadi seorang ibu, akan ada di posisi yang manakah?

Selamat berakhir Pekan!

Cheers,