Showing posts with label Salam pemimpi. Show all posts
Showing posts with label Salam pemimpi. Show all posts

Monday, January 20, 2014

Cari ‘aku’ dalam lautan



Aku hanya ingin tetap begini
Meski kamu memanggil
Meski kelimpahanmu yang mempesona
Laut.

Bukan tak ingin menyelam dalam lautan
Apalagi pergi ke daratan
Aku tetap menyukai lautan
Tak ingin ku mengingkari  daratan

Sesekali ku membuat irama seiring ombak
semakin sering, semakin
aku mencari celah diantara dunia laut
semakin sering hati ku menjawab suara ombak

entah apa jawabnya, aku masih mencari mu di antara
jutaan warna indah dalam lautan
tak sabar ingin bertemu


Monday, December 2, 2013

Pencipta dalam Diri


Buat kalian-kalian seorang mahasiswa, pasti tau tentang PKM singkatan dari Proposal Kreativitas Mahasiswa. Saya dari dulu pengeeeen banget bikin PKM, tapi merasa nggak ahli dalam hal itu. So, kemarin sempet membuat proposal tersebut, tapi itu cuma sebagai anggota.
Sekarang, mumpung ada ide buat bikin PKM-GT (Gagasan Tertulis), saya mencoba mendiskusikan dengan salah satu dosen di departemen.  “Sebenarnya sudah banyak sekali mahasiswa yang ingin membuat PKM-GT. Tapi, kebanyakan dari mereka hanya mau saja, tanpa memikirkan lebih lanjut manfaat dari gagasan tersebut.  Selain itu, kendala yang biasa dialami adalah bagaimana menuliskan ide-ide kreatif tersebut secara ilmiah, sedangkan penulisan seperti itu belum menjadi sebuah habit di lingkungan kita, papar dosen saya”. Hampir 100% beliau benar. Kesibukan-kesibukan laporan menjadi hambatan bagi sebagian orang sehingga untuk turun langsung ke masyarakat pun dilupakan. Kita-kita hampir nggak tau nih masalah yang sesungguhnya dialami oleh masyarakat yang sangat membutuhkan solusi dari kaum muda.
Balik lagi ke PKM, yang pada intinya menciptakan sesuatu yang dapat bermanfaat untuk orang banyak. Penciptaan tersebut ternyata nggak gampang. Apalagi, ketika dlihat dari keasliannya (orisinil). Yang orisinil itu lah yang nggak instan. Butuh waktu yang lama untuk mewujudkannya. Tapi, hal pertama yang harus dibuat ialah desain. Oh ya, tahu siapa nama pencipta Dufan? Saya juga baru tahu hari ini. Ciputra adalah nama dari seseorang yang membuat Dufan. Ketika pertama kaiinya ia ke Ancol, ia melihat pantai yang sangat kotooor sekali, begitu juga dengan lingkungan di daerah tersebut. Saat itu, di daerah Ancol dijadikan tempat pembuangan mayat (sebelum tahun 1945). Kemudian, ia ingin membuat sebuah ‘Disney Land’ di Ancol, maka apa yang kita lihat dan kita  nikmati saat ini adalah sebuah desain yang telah lama dibuat oleh Ciputra.
Jadi, pada intinya, buatlah gagasan yg dapat bermanfaat untuk orang banyak dan saat hasilnya dilihat, orang-orang akan mengingat kita. Selain itu, ada beberapa kiat yang diajarkan oleh dosen saya untuk menciptakan sesuatu yang orisinil. Untuk gambaran jelasnya,kiatnya adalah sebagai berikut:
-          Berilah kebebasan diri dalam memilih atau menentukan apa yang ingin kita ciptakan, tanpa harus ada payung ketakutan
-          Buatlah desain dari apa yang ingin kita ciptakan. Buatlah, meskipun itu memerlukan waktu yang lama
-          Implementasikan pada masyarakat

Ternyata, kiat-kiat tersebut nggak susah, hanya saja, tanya dalam diri kita, apakah kita mau melakukannya? Jadi, selamat berkreasi untuk kaum muda, dimana pun, kapan pun. Jangan hanya karena ada event PKM ini kita baru mencari ide. Ciptakanlah ide-ide disetiap hari kita J

Saturday, April 20, 2013

Pilih Pasar Kaget atau Belajar?

 Mungkin masih ingat mengenai postingan saya tentang Sanggar Juara. Pagi tadi, saya baru saya turun lapang ke Desa Situ Leutik di derah Dramaga. Kami datang terlambat, lebih cepat dari keberadaan pasar kaget di daerah Bara.

Bara adalah sebuah nama daerah yang terletak disekitar kampus. Disetiap hari Minggu, selalu ada pasar kaget di Bara. Sekitar pukul 6 mungkin sudah ramai sekali. Adanya pasar kaget ini menjadi ladang usaha bagi masyarakat sekitar dan kadang juga mahasiswa. Mahasiswa yang sedang membutuhkan dana kerap menjajakan dagangannya di pasar kaget tersebut (misal: baju bekas), atau kadang menawarkan dagangan untuk para pengunjung yang senam (re: makanan dan minuman). Menurut saya, hal tersebut merupakan hal positif yang tidak ada salahnya jika dilakukan. Uang di pasar kaget ini mungkin akan terus berputar disitu-situ saja. Subjeknya adalah mahasiswa, pedagang, dan pengunjung. Berbicara soal pengunjung, anak-anak di Desa Situ Leutik adalah anak-anak yang ingin menjadi bagian dari pengunjung tersebut. Saya tidak merasa keberatan. Tapi, jujur, saya merasa sedih ketika saya datang ke sekolah Situ Leutik, dan anak-anaknya tidak ada karena mereka semua ke pasar kaget.

Ya, saya kaget karena pasar kaget. Betapa sedikitnya hasrat mereka untuk belajar, betapa sedikitnya hasrat para ibu untuk mengajak anaknya belajar. Miris. Terlebih desa Situ Leutik terletak di daerah kampus. Saya pun miris, saat perjalanan menuju Sekolah Situ Leutik, saya lihat ebberapa remaja, yang berpakaian tidak senonoh. Mereka adalah bagian dari penerus bangsa. Anak-anak bisa saja mencontoh para remaja yang berada didekat lingkungannya.

Kembali lagi mengenai pasar kaget. Entah apa yang anak-anak cari disana. Saya sedih sekali, bahkan saat kami datang pun, mereka justru kabur. Mungkin ini juga merupakan teguran bagi para mahasiswa, atau penerus bangsa, di zaman yang seperti ini, kita harus sekreatif mungkin untuk mengajarkan anak-anak agar mereka tidak bosan. Kita harus dapat bersaing dengan faktor-faktor yang dapat menurunkan niat belajar anak-anak. Dan, bukan salah pasar kaget, bukan salah anak-anak. Bisa jadi budaya. Ya, pendidikan karakter yang mungkin adapat mengubahnya. Ketika kita mengetahui lingkungan mereka, bagaimana mereka dididik oleh orang tuanya, sudah saatnya kita membantu anak-anak agar memiliki karakter yang baik sehingga budaya apa pun itu yang sedang berjamur tak menjadi budaya yang harus diikuti.

Selamat mengajar untuk kamu yang ingin mengajar,

Salam.

Friday, April 19, 2013

Intuisi dan Sanggar Juara


“Kak Syifaaaa!!!”, anak kecil itu berteriak menghampiri perempuan yang berjalan ke arahnya.
Ku lihat, perempuan itu menanggapinya dengan pelukan hangat. Aku memperhatikan keduanya. Anak-anak yang lain ikut menghampiri perempuan itu. Mereka berteriak kegirangan. Perempuan itu seperti membawa mainan bagi mereka.
“Yuk masuk kelas!”
Perempuan itu mengajak anak-anak masuk ke dalam kelas. Sekolah hari ini libur. Ya, ini hari Sabtu. Tapi, hari ini tetap ramai dengan anak-anak kecil yang sepertinya menanti perempuan itu disetiap pekan. Sekolah ini berada di salah satu Desa di Kabupaten Bogor. akses untuk ke sekolah ini tidak terlalu sulit. Aku melihat sekeliling sekolah. Hanya ada beberapa pintu kelas saja, sekitar delapan atau sepuluh kelas. Perempuan itu masuk ke dalam kelas diikuti yang lainnya.
“Gia, lihat ke arah sini!”
Perempuan itu memanggil salah satu dari mereka dan mengarahkan lensa kamera ke arahnya.
Aku memperhatikan perempuan yang sudah akrab dengan mereka, ku dengar tadi namanya Syifa.
Aku tersenyum melihatnya. Perempuan itu mengingatkan ku pada satu sosok.
Aku memperhatikan hiruk pikuk di dalam kelas. Mereka asyik berbicara satu sama lainnya. Beberapa juga berbicara dengan kakak-kakak yang datang. Suasana kelas cukup ramai. kursi kelas hampir penuh oleh anak-anak yang tidak berseragam. Ya, ini Sabtu. Ini merupakan kegiatan mengajar yang dilakukan oleh suatu acara di kampus ku. Hari ini, aku mencoba menjadi volunteer.
“Jadi, kalian nggak boleh buang sampah sembarangan lagi karena akan menimbulkan bau yang akhirnya menjadi sarang penyakit”, seorang pembicara menjelaskan kepada anak-anak. Ditampilkannya gambar-gambar yang menarik untuk mereka.
Mereka semua mengangguk kompak, meskipun umur mereka berbeda-beda. Aku berkenalan dnegan slaah satu darinya, ia duduk di bangku kelas 4. “Rara teh”, jawabnya ketika aku menanyakan namanya.
Aku tersenyum ke arahnya. Rambutnya yang lurus dikuncir seperti ekor kuda. Ia berbisik-bisik dengan teman sebelahnya dan kemudian tersipu-sipu. Aku tertawa melihatnya dan mencoba mengabadikan momen tersebut. Kegiatan mengajar di sekolah ini berlangsung singkat. Sebagai penutup, kak syifa meminta agar mereka menampilkan sebuah nyanyian di depan kelas. Dua aorang anak perempuan mencoba menunjukkan dirinya. Aku tidak terlalu mengerti lagu yang mereka nyanyikan. Yg aku dengar, mereka menyebut-nyebut kata ‘banana’. Aku hanya mengambil gambar mereka dan tak sempat mengambil videonya, ah sayang sekali.


Saat kegiatan usai, aku mencoba melihat sekeliling kelas. Anak-anak memang kreatif. Ku lihat gantungan-gantungan buatan tangan mereka sendiri terurai dijendela-jendela kelas. Aku membantu yang lainnya membereskan kursi-kursi yang telah dipakai. Beberapa kursi harus dikembalikan ke kelas sebelah. Ku angkat satu kursi ke dalam kelas sebelah. Aku melihat kerajinan tangan yang lebih banyak didalam kelas ini. Rara, anak perempuan yang tadi berkenalan dengan ku menghampiriku.
“kamu bisa bikin ini?”, tanya ku sambil menunjuk burung-burung kertas yang terpajang di jendela.


“bisa teh”, jawabnya seraya tersenyum
“Wah...hebat. siapa yang ngajarin rara?”, tanya ku lagi
“Bu guru”, ia menjawab tanpa melihat ke arah ku, tangannya asyik bergerak memainkan kertas bekas yang akan dijadikn burung-burung kertas.
Ia memberikan ku burung-burung kertas kemudian pergi begitu saja. Aku mengambil burung-burung kertas dan menyimpannya di dalam tas. Ku tinggalkan ruang kelas dan kembali beraur dengan yang lain.  
Aku berfoto bersama yang lain dihalam sekolah. Kebanyakan dari mereka berasal dari jurusan komunikasi. Ku abadikan sudut-sudut di sekolah itu, entah kenapa sekolah ini amat berkesan bagi ku. Rasanya aku ingin kembali kesini dan lebih dekat dengan anak-anak disekitarnya.
Kami berjalan menuju kampus melewati sawah dan kebun. Berbeda saat kami datang kesini, ya, menggunakan angkutan umum.
“Wah, aku baru tahu loh kita bisa lewat sini!”, aku memasang muka antusias
“Kapan-kapan ikut kita lagi aja ya!”, ajaknya. Tapi ia bukan syifa.
Aku menggangguk seraya tersenyum. Sesekali kulirik syifa, ia asyik dengan kameranya.
Aku tiba di asrama kampus setelah satu jam berjalan, ditambah dengan mampir kesana-kemari. Badan ku letih bukan main. Ku ambil burung kertas yang tadi, ku letakkan di atas meja belajar. Burung kertas itu terus tergeletak disana.
Meja belajar ku semakin berkesan dengan satu burung kertas. Ku lihat, burung itu telah nampak berdebu. Entah kenapa aku tak ingin membuangnya. Warnanya pun sudah usang. Sudah berbulan-bula burung itu tergeletak disana. Aku mencoba mengingat apa yang sempat diceritakn oleh anak-anak di tempat ku menjadi volunteer. Ada yang bercerita bahwa mereka akan tampil di kampus, entah acara apa. Aku benar-benar lupa.  
Sekian lama burung kertas itu berada di meja belajar ku. aku tetap belum membuangnya meski berdebu.
 Sejak aku sibuk dengan beberapa tugas, aku hampir mengubur keinginan ku untuk mengajar. Keinginan ini kembali muncul saat bertemu anak-anak kecil dikantin. Aku mencoba mendaftar menjadi tenaga pengajar non volunteer di salah satu tempat les. Sayang sekal, belum rezeki.  
Oh ya, ada satu kegiatan yg menurut ku bagus untuk dilakukan. Ya , kepo. Aku sering sekali memantau akun tweet kampus untuk mendapatkan info-info. Hasil dari kepo tersebut, aku memfollow Sanggar Juara, sebuah komunitas yang berbasis pendidikan dan lingkungan. Aku mencari-cari info mengenai sanggar juara, melalui tumblr, bahkan mengontak untuk menjadi volunteer, tapai sayang aku tidak mendapat respon.  Aku menunggu sampai tiba open recruitment dari Sanggar Juara. Dan.............................aku masuk!
Kegiatan mengajar Sanggar Juara berlangsung disetiap pekan. Dihari Sabtu, SJ mengajar di Desa Pabuaran. Sementara itu, di Hari Minggu, SJ mengajar didaerah Situ Leutik. Aku hanya bisa datang pada hari Minggu untuk turun lapang perdana ini. Kami berjalan kaki melewati sawah dan kebun. Sesampainya disana, ternyata sekolah tersebut adalah sekolah yang pada waktu itu aku datangi. Anak-anak berlarian menghampiri kakak-kakak yang sudah mereka kenal sebelumnya. Saat masuk didalam kelas, mereka menyanyikan lagu “Open Banana”. Aku tersenyum selama kegiatan berlangsung. Mungkin ini yang dapat disebut dengan intuisi. Ya, pada dasarnya, kita memang memiliki kewajiban untuk mencari dan berhak mendapatkan apa yang telah kita cari. 


Tuesday, December 11, 2012

cari-cari amanah

Cari kerja itu susah ya, cari pengalaman juga susah. Saya baru menghabiskan satu jatah gagal. Terkait pengajuan saya untuk mengajar di salah satu bimbel di daerah Bogor. Saya sedang mendaftar lagi, apapun hasilnya. Tujuan utama saya bukan materi, nggak munafik sih kita juga butuh itu. Keadaan yang jauh dari orang tua, hal tersebut merupakan sebuah panggilan tersendiri. Entah itu materi atau pengalaman, intinya adalah amanah. Senior saya bilang, ternyata, kita yang mencari amanah. Bukan amanah yang mencari kita.Kita juga yang butuh amanah, bukan amanah yang membutuhkan kita. Toh, bimbel yang saya daftari juga tetep ada, tetep berjalan, meskipun saya nggak ngajar disana.
Sekarang-sekarang ini, tanpa disadari, saya sedang mencari-cari amanah. Bukan mencari jodoh lagiii. Lupakan ya soal jodoh, kapan-kapan akan saya bahas :D
Ya, saya mencari-cari amanah. Daftar BEM, beasiswa, ngajar, itu semua amanah. Saya nggak tau harus berapa jatah gagal lagi yang harus dihabiskan. Kemenangan yang sesungguhnya adalah saat kita bangkit setelah jatuh.

Tetep semangat berusaha buat kalian yang sedang mengejar apa pun itu ;)

Friday, December 7, 2012

Selamat gagal


Selamat senja, pembaca. Dimana pun kalian berada, nikmati senja kalian J

Saya bersyukur, senja kali ini masih bisa menulis. Saya ingin bercerita tentang kegagalan. Hari ini, saya benar-benar merasa gagal. Gagal dalam banyak hal. Saya merasa gagal di akademik. Saya merasa gagal menjadi seorang teman. Saya merasa gagal atas apa yang sudah saya inginkan. Saya merasa gagal dalam menulis. Saya merasa gagal menjadi pendengar yang baik. Saya gagal menjadi hamba yang taat.

Pernah ada yang bilang, ketika kita gagal, itu artinya kita telah melangkah dua kali lebih maju. Saya sedang mencoba menerima kegagalan. Saya nggak tau, apakah saya telah melangkah lebih maju. Saya nggak tau apa yang harus saya lakukan. Sampai-sampai, saya melewati malam saya begitu saja. Atau memang, semalam adalah hak atas badan, pikiran, dan hati saya. Setelah mereka semua melaksanakan kewajibannya.
Saya hanya bisa menarik napas panjang. Menangis terlalu cengeng. Saya memang merasa gagal. Tapi saya yakin, akan tiba saatnya atas apa yang saya inginkan tercapai. Saya hanya harus banyak belajar.
Satu kalimat yang selalu menjadi motivasi bagi saya: Tidak ada kata gagal sebelum kau benar-benar memutuskan untuk berhenti mencoba.

Jawaban atas perasaan gagal saya karena saya berhenti mencoba. Detik ini juga, saya mencoba lagi. 

Then, time will tell...


Saturday, November 24, 2012

Semangat beraksi!


Kalau ditanya apa aksi saya untuk berkontribusi dalam memajukan Indonesia, saya belum melakukan hal yang besar. Tetapi, untuk memulai sesuatu yang besar, harus dimulai dari sesuatu yang kecil. Generasi muda lain yang lain mungkin sudah banyak yang berkontribusi untuk memajukan Indonesia. Saya ingin berkontribusi dalam dunia pendidikan. Saya ingin mengajar anak-anak.
Keinginan ini mucul ketika saya bermain dengan anak-anak di kantin fakultas saya. Beberapa penjual dikantin fakultas acapkali membawa anak-anaknya. Ada empat anak kecil yang sering datang; Keke, Nadia, Yuda, Novan. Umur mereka sekitar 3-5 tahun. Hampir setiap jam makan siang, saya datang ke kantin untuk bermain bersama mereka. Rasanya senang sekali bisa berada diantara mereka. Kami bermain pensil dan kertas. Mereka dapat menggambar atau menulis apa pun yang mereka inginkan. Beberapa kali, saya mencoba mengajarkan menulis abjad kepada mereka. Kami juga sering bernyanyi bersama. Saya tidak ingin lagu anak-anak benar-benar hilang diantara mereka. Untungnya, mereka masih mengenal lagu “Balon ku” dan “Kereta Api”. Rasanya senang sekali setiap mengajarkan atau menanamkan hal-hal baik kepada mereka.
Mereka menginspirasi saya untuk mengajar anak-anak lain. Suatu hari, saya mendapat informasi ada sebuah bimbingan belajar di daerah Bogor yang membutuhkan tenaga pengajar untuk mengajar anak-anak Sekolah Dasar dan PAUD. Saya rasa, saya membutuhkan pengalaman lain di luar sana. Saya tidak ingin hanya berkuliah saja disini. Diantara jadwal kuliah saya, saya ingin meluangkan waktu untuk mengajar anak-anak. Saya mencoba mendaftar menjadi tenaga pengajar di bimbel tersebut. Saya masih menunggu hasil wawancara dan microteaching beberapa hari lalu. Ini adalah harapan saya untuk mengekspresikan aksi saya. Jika banyak yang membaca, mungkin saja semakin banyak yang berharap sehingga harapan saya akan terwujud. Terimakasih kepada para pembaca yang meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya J. Semoga tulisan saya dapat menambah semangat generasi muda lain untuk beraksi menjadikan Indonesia lebih maju.

Terus berkarya, ya! Semangat dan selamat beraksi! J  

Salam pemuda Indonesia! J


Friday, August 31, 2012

welcome semester 3

Ini adalah theme song dari departemen angakatan gue. Nadanya sih nada lagu Chibi Maruko Chan, bukan chibi-chibi loh yaa....
Ceritanya, mata kuliah kita tuh praktikum semua. Ya, paling gue bakal punya hobi baru yaitu....................
BUAT LAPORAN. Welcome semester 3!!!!!! Salam biru!!!!!

Hal yang menyenangkan hati
banyak sekali bahkan kalau kita praktikum
Sekarang ganti jas lab
Agar menarik hati
Ayo kita buat laporan.....

Jalan panjang menuju gelar sarjana
Disana kami temukan segalanya
Yang menyatukan hati THP 48
Kami semangat dan selalu ceriaaaaaa

Bau amis
Bukan halangan untuk maju
Semangat THP ku
Jayalah!!!

Wednesday, August 22, 2012

Pulang

Besok aku pulang. Bukan pulang ke rumah. Aku besok hanya pulang ke tanah kelahiran. Aku besok hanya pulang ke rumah impian. Setelah lama menetap disini, belum banyak yang bisa aku lakukan untuk orang-orang yang aku sayangi. Untuk keluarga ku, aku belum banyak membantu, malah merepotkan, menuruti ego, minta ini-itu, mau ini-itu, tapi gak mau diminta ini-itu. Keterlaluan. Menyesal?percuma. Sedih rasanya belum berbakti sm mama abi, belum bisa tahan emosi sama kakak-adik. Padahal, Tuhan sudah berbaik hati mengizinkan ku disini. Puasa bersama, shalat bersama, lebaran bersama. Hanya sesekali ke Bogor bulan puasa ini. Tahun lalu, puasa pertama disana, ospek juga. Tapi ternyata aku lebih bersyukur. Manusia....
Aku masih ingin disini, masih ingin membantu mama, masih mau berada ditengah-tengah mereka dengan lebih sabar dan bersyukur. Semoga masih ada waktu pulang dan dapat bertemu dengan seluruh keluarga.

Monday, June 11, 2012

Bogor, 12 Juni 2012

Saya membusuk disini. Di hinggapi lalat-lalat hitam. Kemana harus pergi? Rumah? lagi-lagi. Tidak ada yang lebih bersahabat selain rumah. Asrama sepi sudah, hanya ada suara kucing, cicak, dan hati saya. Penghuni sudah bisa di hitung. Saya berani. Saya lebih berani disini dari pada di kontrakan baru. Ada yang salah, entah apa. Saya benar-benar mati dalam setumpuk suasana ini. Sekaligus menikmati. Saya hari ini mencoba mencari. Saya belum menemui apa pun. Saya benar-benar membusuk sampai Sabtu nanti. Sampai Badan Pengelola Asrama mengusir saya. Lalu setelah itu saya harus kemana? Tidur di sepanjang jalan Babakan bersama tumpukan barang, hanya untuk memastikan kontrakan saya benar baik-baik saja? Gila. Saya juga masih memiliki pesan yang harus dijalankan. Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, akan terasa sangat panjang sekali. Pesan di hari-hari tersebut meluap bersama bayangan tentang hidup satu tahun ke depan nanti. Gila. 

Thursday, May 24, 2012

Sudah hampir satu tahun.

Sudah hampir satu tahun aku di Bogor. Sudah hampir satu tahun aku tinggal di asrama. Sudah hampir satu tahun aku seatap dengan mereka yang mantap. Sudah hampir satu tahun aku mengenal lorong 1. Lorong yang setiap paginya ramai dengan antrian kamar mandi dan mencari setrikaan. Lorong yang hampir setiap malam Jum'atnya kami ngajikan. Di lorong itu banyak kenangan : kami makan bersama, kami berbagi cerita bersama, kami menangis bersama. Satu tahun lalu, saat pertama kalinya aku masuk ke dalam lorong, mencari kamar nomor 006 bersama keluarga ku. Satu tahun lalu, aku datang dengan semangat membara. Satu tahun lalu, aku menangis saat orang tua ku meninggalkan ku. Satu tahun lalu, aku memeluk erat mama ku, aku melambaikan tangan pada keluarga ku. Ya, sudah hampir satu tahun aku hidup mandiri. Pastinya, tanpa dia. Sudah hampir satu tahun lalu aku sendiri. Seminggu pertama tinggal diasrama tidaklah mudah. Sekamar bersama orang-orang yang tidak aku kenal. Bahkan ia yang ku kenal justru meninggalkan ku. Satu tahun lalu, entah harus berbagi dengan siapa. Ia benar-benar meninggalkan ku. Aku takut. Aku takut sekali. Aku masih ingat bagaimana air mata itu mengalir. Satu tahun lalu, selama satu minggu lebih, aku membanjiri atap kamar dengan tangis ku. Satu tahun lalu, teman kamar ku bertanya tentang keadaan ku. Satu tahun lalu, aku tidak kuat menahan itu semua. Satu tahun lalu, teman-teman ku memberikan aku semangat baru. Ya, sudah hampir satu tahun lalu. Aku sangat menikamti satu tahun ku. Aku bertemu banyak teman, mengenal banyak orang. Sudah hampir satu tahun bus merah itu mengantar ku Bogor - Jakarta - Bogor. Bukan ia, jelas. Ia sibuk bersamanya. Ya, tak perlu dipertanyakan. Kenyataan adalah saksinya. Sudah hampir satu tahun aku disini. Aku belajar lebih dari mata kuliah yang di ajarkan : kehidupan. Aku banyak belajar, dan masih belajar hingga saat ini. Nilai ku tidak bagus-bagus, tapi ada yang lebih penting disini. Sudah hampir satu tahun aku di kota hujan ini. Kota kelabu. Biru. Menggebu. Aku sangat mensykuri waktu satu tahun ini. Rencana Tuhan memang selalu lebih indah.