Tuesday, December 11, 2012

cari-cari amanah

Cari kerja itu susah ya, cari pengalaman juga susah. Saya baru menghabiskan satu jatah gagal. Terkait pengajuan saya untuk mengajar di salah satu bimbel di daerah Bogor. Saya sedang mendaftar lagi, apapun hasilnya. Tujuan utama saya bukan materi, nggak munafik sih kita juga butuh itu. Keadaan yang jauh dari orang tua, hal tersebut merupakan sebuah panggilan tersendiri. Entah itu materi atau pengalaman, intinya adalah amanah. Senior saya bilang, ternyata, kita yang mencari amanah. Bukan amanah yang mencari kita.Kita juga yang butuh amanah, bukan amanah yang membutuhkan kita. Toh, bimbel yang saya daftari juga tetep ada, tetep berjalan, meskipun saya nggak ngajar disana.
Sekarang-sekarang ini, tanpa disadari, saya sedang mencari-cari amanah. Bukan mencari jodoh lagiii. Lupakan ya soal jodoh, kapan-kapan akan saya bahas :D
Ya, saya mencari-cari amanah. Daftar BEM, beasiswa, ngajar, itu semua amanah. Saya nggak tau harus berapa jatah gagal lagi yang harus dihabiskan. Kemenangan yang sesungguhnya adalah saat kita bangkit setelah jatuh.

Tetep semangat berusaha buat kalian yang sedang mengejar apa pun itu ;)

Friday, December 7, 2012

Selamat gagal


Selamat senja, pembaca. Dimana pun kalian berada, nikmati senja kalian J

Saya bersyukur, senja kali ini masih bisa menulis. Saya ingin bercerita tentang kegagalan. Hari ini, saya benar-benar merasa gagal. Gagal dalam banyak hal. Saya merasa gagal di akademik. Saya merasa gagal menjadi seorang teman. Saya merasa gagal atas apa yang sudah saya inginkan. Saya merasa gagal dalam menulis. Saya merasa gagal menjadi pendengar yang baik. Saya gagal menjadi hamba yang taat.

Pernah ada yang bilang, ketika kita gagal, itu artinya kita telah melangkah dua kali lebih maju. Saya sedang mencoba menerima kegagalan. Saya nggak tau, apakah saya telah melangkah lebih maju. Saya nggak tau apa yang harus saya lakukan. Sampai-sampai, saya melewati malam saya begitu saja. Atau memang, semalam adalah hak atas badan, pikiran, dan hati saya. Setelah mereka semua melaksanakan kewajibannya.
Saya hanya bisa menarik napas panjang. Menangis terlalu cengeng. Saya memang merasa gagal. Tapi saya yakin, akan tiba saatnya atas apa yang saya inginkan tercapai. Saya hanya harus banyak belajar.
Satu kalimat yang selalu menjadi motivasi bagi saya: Tidak ada kata gagal sebelum kau benar-benar memutuskan untuk berhenti mencoba.

Jawaban atas perasaan gagal saya karena saya berhenti mencoba. Detik ini juga, saya mencoba lagi. 

Then, time will tell...


Saturday, November 24, 2012

Semangat beraksi!


Kalau ditanya apa aksi saya untuk berkontribusi dalam memajukan Indonesia, saya belum melakukan hal yang besar. Tetapi, untuk memulai sesuatu yang besar, harus dimulai dari sesuatu yang kecil. Generasi muda lain yang lain mungkin sudah banyak yang berkontribusi untuk memajukan Indonesia. Saya ingin berkontribusi dalam dunia pendidikan. Saya ingin mengajar anak-anak.
Keinginan ini mucul ketika saya bermain dengan anak-anak di kantin fakultas saya. Beberapa penjual dikantin fakultas acapkali membawa anak-anaknya. Ada empat anak kecil yang sering datang; Keke, Nadia, Yuda, Novan. Umur mereka sekitar 3-5 tahun. Hampir setiap jam makan siang, saya datang ke kantin untuk bermain bersama mereka. Rasanya senang sekali bisa berada diantara mereka. Kami bermain pensil dan kertas. Mereka dapat menggambar atau menulis apa pun yang mereka inginkan. Beberapa kali, saya mencoba mengajarkan menulis abjad kepada mereka. Kami juga sering bernyanyi bersama. Saya tidak ingin lagu anak-anak benar-benar hilang diantara mereka. Untungnya, mereka masih mengenal lagu “Balon ku” dan “Kereta Api”. Rasanya senang sekali setiap mengajarkan atau menanamkan hal-hal baik kepada mereka.
Mereka menginspirasi saya untuk mengajar anak-anak lain. Suatu hari, saya mendapat informasi ada sebuah bimbingan belajar di daerah Bogor yang membutuhkan tenaga pengajar untuk mengajar anak-anak Sekolah Dasar dan PAUD. Saya rasa, saya membutuhkan pengalaman lain di luar sana. Saya tidak ingin hanya berkuliah saja disini. Diantara jadwal kuliah saya, saya ingin meluangkan waktu untuk mengajar anak-anak. Saya mencoba mendaftar menjadi tenaga pengajar di bimbel tersebut. Saya masih menunggu hasil wawancara dan microteaching beberapa hari lalu. Ini adalah harapan saya untuk mengekspresikan aksi saya. Jika banyak yang membaca, mungkin saja semakin banyak yang berharap sehingga harapan saya akan terwujud. Terimakasih kepada para pembaca yang meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya J. Semoga tulisan saya dapat menambah semangat generasi muda lain untuk beraksi menjadikan Indonesia lebih maju.

Terus berkarya, ya! Semangat dan selamat beraksi! J  

Salam pemuda Indonesia! J


Friday, November 2, 2012

#wish

Welcome November! Please be my month #Novemberwish
Di awal-awal bulan, media sosial di dunia maya pasti ramai dengan kaliamat-kalimat seperti itu. Tidak ada salahnya bukan? Setiap orang memang harus punya harapan. Tapi menurut saya, setiap hari, kita punya harapan. Setiap hari, kita harus selalu punya harapan. Setiap hari, kita selalu punya #wish. Mungkin, dimensi yang paling tepat untuk ber#wish-ria ya pada awal bulan. Yang perlu digarisbawahi adalah usaha kita untuk mencapai harapan tersebut.

Teruslah berharap! ;)

Sunday, October 28, 2012

Saya,

Saya masih seperti saya. Bukan ia, yang sudah tak menjadi ia. Saya masih saya, bukan mereka, yang sudah tak menjadi mereka. Pagi masih tetap sama. Matahari masih tetap sama. Langit kami tetap sama, kami hanya dipisahkan pada dimensi ruang dan waktu. Siang kami masih tetap sama. Malam kami masih tetap sama. Katanya, Bogor ini Kota Hujan. Bukan berarti, kota lain tak pernah hujan, bukan? Hujan kami masih tetap sama. Tentu, hati kami sudah tak sama. 

Saya lebih senang menyambut pagi dengan suasana ini. Ia mungkin lebih senang menyambut pagi dengan ucapan selamat pagi. Saya lebih senang menikmati siang dalam rumah ke dua saya. Ia mungkin lebih senang menikmati siang dalam alunan mereka. Saya lebih senang melewati malam bersama kertas-kertas. Ia mungkin lebih senang melewati malam bersama suaranya, suara mereka.

Saya masih bercerita tentang ia, ia mungkin sudah tak bercerita tentang saya. Saya masih punya cerita lain, selain ia. Ia mungkin tidak punya cerita lain, selain cerita tentangnya. Saya masih tetap saya, bisa bercerita tentang ia, sekaligus bercerita, tentang selain ia.

Bogor, 28 Oktober 2012

saya, 

Friday, October 26, 2012

Sukma bersabda; (II)


“Ran, udah malem loh ini, kamu nggak di cariin orang tua mu?”, pertanyaannya membuyarkan lamunan ku.
“Engga mbak, tadi aku udah izin kok. Lagipula, kapan lagi aku ketemu Sena”, aku manik nafas panjang membayangkan satu minggu ke depan, dua minggu ke depan, tiga minggu ke depan, ah sudahlah.
“Iya ya, pasti nanti jarang pulang, hati-hati ya Ran disana”, Sukma tersenyum dan aku merasa ia benar-benar seperti sosok mbak ku.
Aku menggangguk pasti dan membalas senyumannya.
“Sukma, nyanyi lagi yuk, masih lama banget nih”, drummer dari band mereka, datang membawa gitar dan menghampiri Sukma.
Sukma berdendang, menghayati lagu yang ia nyanyikan, ia sempat mengajak ku bernyanyi bersama. Tapi, aku menolaknya. Aku tidak berbakat dalam hal menyanyi. Sena tau itu. Sekitar jam 10 malam kami meninggalkan rumah rekaman. Sebelum pulang, aku berbincang dan melepas rindu dengan Sena. Aku mampir ke rumah Sena dan berpamitan dengan ibunya. Sena tidak mengantar ku. Aku pulang bersama mbak Sukma, dengan sepeda motornya. Rumah kami searah.
“Sukma, titip Rana ya”, Sena tersenyum kepada Sukma sambil mengusap kepala ku.
Malam itu, di halaman depan rumah Sena, Sukma seperti tempat penitipan bagi aku dan Sena. Sukma seperti dipercaya oleh kami berdua. Mungkin, karena ia satu-satunya perempuan yang ada di grup band ini. Satu-satunya perempuan selain aku.
“Pasti aku jagain Sen”, Sukma bersabda.

***

Selamat datang Semarang. Ucapku dalam hati saat sampai di Semarang. Aku sudah jauh melangkah. Aku melihat langit Semarang. Masih sama seperti langit Jakarta. Sena, apa kabar dengannya? Kami bertemu terakhir kemarin sore. Ia mengantar ku membeli keperluan untuk di Semarang.
“Ayo Rana, kopernya di bawa, jangan bengong terus”, ibu tertawa kecil melihat muka ku yang bingung.
Aku membuka pintu kamar, debu-debu menyambut kedatangan penghuni baru.
Ibu membantu aku membersihkan kamar, menyusun barang-barang bawaan ku.
Aku pasti akan merindukan ibu.
“Nanti seminggu sekali bisa main ke rumah Tante Dian. Tante Dian sudah seperti adik ibu loh, Ran. Tante Dian juga pandai memasak, kamu belajar lah sama dia”.
Ibu menceritakan sosok sahabatnya. Ibu dan Tante Dian bersahabat sejak di bangku SMA.
“Ya kalau nggak sempet seminggu sekali, dua minggu sekali juga boleh”, sambung ibu.
Aku mengangguk dan mengingat wajah Tante Dian. Ia mengingatkan ku pada mbak Sukma
“Sudah selesai beres-beresnya bu? Ibu sama anak kok sama aja, sama-sama suka gossip”, ayah datang sambil membawa minuman untuk kami.
“Ini bukan gossip yah. Ibu tuh lagi cerita tentang Tante Dian ke Rana”, ibu menggerutu seperti anak kecil.
Aku tertawa melihat pahlawan perempuan dan laki-laki yang ada dihadapan ku.
Ibu membetulkan jilbabnya dan mengajak ku keluar kamar.
“Sebentar bu, ini yang terakhir”, aku meletakkan foto ku bersama Sena di meja belajar. Itu adalah foto yang paling kau sukai. Foto box bersama kekasih menjadi hal yang wajar dilakukan pada waktu SMA.  Ya, memang norak. Sangat norak.

Thursday, October 25, 2012

atas nama keluarga


Aku berjalan diantara tembok biru
Semakin kelabu
Ketika tidur menjadi tak menentu
dan gejala keegosian muncul dihadapan
keluarga baru
Aku terus menyusuri, mengamati
setiap detik yang terjadi pada atap masing-masing
dari kami
apa yang aku cari?
apa yang kami cari?
diantara kertas-kertas berhamburan
yang kami tuang setiap minggunya dengan tinta hitam
atau biru,
kami terjerebab pada bagian-bagian pilar ini
setiap waktu, kami
bersama
setiap waktu itu pula, kami
berlari
Apa yang kami cari?

Aku bukan lagi berjalan diantara tembok biru
Aku berlari kini
Aku berlari sendiri?
Katanya, ini keluarga atas nama kami
Kami adalah bagian dari kami
Kami yang merupakan bagian dari kami, kenapa berlari
sendiri?
Apa yang kami cari?
Aku berhenti di tepi, saat pekan perkenalan kami
hanya cerita lalu
Katanya, ini keluarga saling peduli
Kami adalah bagian dari kami
Kami yang merupakan bagian dari kami, kenapa tidak
saling peduli?

Aku diam, bercerita dibawah jadwal-jdwal padat kami
Aku diam, berkelana dibawah sudut pandang masing-masing
dari kami
Aku diam, aku hanya mencari dimana kami
Kami, apakah mencari apa yang aku cari?
Aku diam, aku hanya tak ingin berlari
sendiri
atau menepi
sendiri
atas nama keluarga,
ego,
dan peduli,
Masihkah ada kami yang tak menjadi bagian dari kami?