Showing posts with label Sajak ku. Show all posts
Showing posts with label Sajak ku. Show all posts

Monday, April 8, 2013

cerita tentang kau


Saat langit sore mulai gelap
Engkau selalu bercerita
Tentang burung yang bermigrasi jauh
Engkau lantunkan nyanyian
Seiring angin yang mengibas rambutmu
Menjadi satu nada sempurna

Mungkin engkau tak tahu dimana
Sudut mata ku melihat
Saat ranah kita tanpa sinar matahari
Kau terus bercerita

Kini rembulan menghiasi senyummu
Kau semakin elok dengan cerita mu
Engkau bacakan bait-bait suara hati mu

Kau terus bercerita
Bintang di pelupuk mata ku
Hanya engkau
Kau tak henti bercerita
Sampai aku ingin selalu terjaga

Kau bercerita
Dan ku sampaikan pesan ku pada
Tatapan penuh rindu
Karena aku tak selamanya mendengar,
Tak selamanya ada

Sunday, July 15, 2012

Gerangan datang, bukan aku

Kalau saja aku bisa menukar ini
Untuk ia yang tersakiti
Di tinggali, setiap malamnya menjadi sepi
Aku bukan iri

Mungki dulu setiapnya hanya bersama mu
Untuk ia yang berpacu pada waktu
Pergi, kamu

Kalau saja fajar datang tepat waktu
Aku tak ingin terbangun sebelum subuh
Untuk ia yang tak berteman dengan hangat pagi
Datang, bukan aku

Mungkin saat ini hanya sekelumit angan lalu
Kamu, kembali lah padanya
Mohon, aku

satu lagi


Wah tanpa disengaja saya menemukan foto ini: meja belajar saya di asrama. Aih kangen. Awal-awal di asrama, saya sering banget belajar disini. Tapi, setelah itu, lebih sering belajar di kasur. Alhasil, beberapa menit kemudian, saya benar-benar menyerah pada kasur. Ya...jangan salahkan siapa-siapa kalau IP semester 2 menurun. Oh ya, foto ini diambil pas semester 1, soalnya, bukunya masih penuuuh, sekilas juga kelihatan ada buku Pengantar Ilmu Pertanian dan Ekonomi (matkul semester 1). Lalu ada vitamin pemberian ibu saya. Pas semester 1 saya rajin minum vitamin, termasuk vitamin hati. Sekarang juga makin rajin. Rajin ninggalin meja termask vitaminnya. Botolnya aja sampe berdebu. Ya...jangan salahkan siapa-siapa juga kalau di semester 2 saya sering sakit. Tapi saya bersyukur hati saya nggak ikut sakit. 

Wednesday, May 23, 2012

Peduli?

Saat kau mencari siapa tuan dari sesuatu hal, siapa yang peduli?
Mereka berlagak tenggelam dalam aktivitasnya, kau juga memang peduli?
Kau terus mencari, sedang yang lain juga bertapa dalam ranah kesibukan
Ketika semua ingin dimengerti, masihkah kau bertanya 'siapa yang peduli?'
Ketika sebagian tertawa dalam duka kubunya, masihkah kau bertanya 'ada yang peduli?'
Sekecil jenuh pun kau pikul kemana-mana
hanya untuk tahu bahwa ada yang peduli?
Enak saja!
Tengguk anggur biar kau senang
Jangan memerang apalagi sampai membawa parang
Itu saja!


Friday, May 4, 2012

Chiki

haii lama saya tidak menulis disini? Apa kabar?
ah pasti kalian baik-baik saja...
ah pasti dia pun baik-baik saja...
dia? siapa dia?!
chiki.
Filosofi chiki.
Seorang sahabat saya bilang, dia itu cuma chiki....
"chiki dimana-mana cuma angin
dan hanya membuat mu bodoh"
Lalu untuk apa saya menanyakan kabar chiki?
Bukannya chiki itu sedang di lahap habis oleh orang lain?
Biar lah orang itu menikmatinya, dan ia akan merasakan akibatnya.
MSGnya yang melimpah tidak ada benefitnya sama sekali

Chiki. chiki. chiki.
Dari dulu juga orangtua saya sudah melarang saya makan chiki.
Siapa yang salah? chikinya? penjual chiki? bukan!
Saya yang salah...
Kenapa saya mau makan angin? sampai-sampai masuk angin...

Dimana-mana, yang doyan chiki itu anak kecil..
Saya sudah berhenti makan chiki.
Saya sudah besar.
Saya tidak mau makan angin lagi. Kosong. Melompong.


Senja

Ia selalu membawa ku pada jingga senja
Ada pelangi katanya
Membara lebih dari jingga
"Tidak pernah ada pelangi dalam senja"

Sawah di bawah sana tidak hanya mendapat jingga
Ada nada lain katanya
Membawa padi tak hanya satu warna
"Aku lihat jingga saja"

Turunkan dagu mu,
Rumah di pojok sana menjadi abu-abu
Katanya, senja dan pelangi juga kelabu
Membiaskan warna-warna yang menggebu
"Aku tak menginginkan abu-abu"

Tubdukkan kepala mu,
Kali ini, lihat pada beberapa sudut kota
Jingga, pelangi, abu-abu, kau dapat melihatnya
dalam satu senja
Kau dapat merasakannya
dalam satu makna

Pejamkan mata mu,
Raba warna itu sambil menikmati senja mu
Indah bukan? Meski kadang ada biru?
"Bawa aku lagi seperti senja ini, semu"

Monday, March 19, 2012

Goresan Darah

Aliran deras dalam tubuhku, tubuhmu
Tak ada yang menghentikan
Meski segelintir luka dalam hati
Tangan, kaki, genggam aku bersama
aliran yang kau sampaikan
Arus merah kami menyatu
Kekerabatan kami berasosiatif dalam rindu
Katamu cukup bersendau alam maya
Kepastian dari Tuhan, kau dan aku
saling mendengar nyanyian alam
nyanyian merdu dalam merah
darah kami bersatu atas nama cinta, dahulu
Biar semesta yang menjawabnya
lewat segores darah yang kau ciptakan
Segores warna segar, tak tahu lah,
ini luka sungguh

Friday, February 10, 2012

Lupakanlah!

Menari dalam buai kata-kata mu,
hanyut dalam senda gurau mu,
tenggelam menuju dasar kebahagiaan....
Semu
Segalanya adalah angin lalu
Khayalan ku disetiap masa tidur
Diam ialah hukum mutlak untuk itu
Berpura-pura tak pernah bertemu
Berpura-pura tak pernah mengenal
Lupakanlah!
Bukan salah mu, apalagi takdir
Ini adalah harga yang harus di bayar dari sebuah pertemuan
Sederhana saja, aku harus pergi atau
berkedok?
Harga mati.
Lupakanlah!

Sunday, February 5, 2012

Bayangan

Bayangan-bayangan seseorang selalu mengantui saya. Dua orang, tiga orang, empat, lima. Saya tak tahu siapa yang megikuti. Saya? Mereka? Atau jangan-jangan kami saling mengikuti? Saya pikir, kejadian di film-film, saat ada tokoh film yang selalu membayangkan wajah seseorang maka ketika bertemu orang lain yang sang tokoh lihat adalah wajah seseorang yang ia bayangkan, semua itu bohong. Tetapi, akhir-akhir ini saya mengalami semua itu. Bodoh. Bodoh sekali. saya benar-benar terlihat seperti orang bodoh. Bahkan bayangan itu hadir di setiap doa saya. Bayangan itu terlalu sering hadir, hampir tidak pernah absen, sampai-sampai hadir di sela-sela tawa saya, di sela-sela kebahagiaan saya dengan keluarga dan teman-teman, di malam hari ketika saya bersenda gurau di dunia maya. Pernah suatu kali bayangan itu hadir di mimpi saya dan bayangan itu tetap menjadi bayangan. Saya membenci ini, saya membenci diri saya sendiri. Saya membenci bayangan-bayangan itu.

Friday, January 13, 2012

Topeng kebahagiaan

Mereka bersandiwara denagn luwes

Topeng

Kebahagiaan

Mereka mengenakan topeng?
Mereka terus bersandiwara tanpa kata
menulis skenario lain di dinding belakang
dengan tinta merah, apa salah?

Topeng

Kebahagiaan

Di tengah malam, mereka menghias topengnya
Ya, di saat yang tak menjadi mereka tertidur
Mereka melepasnya kah?
Ya, hanya di hadapan Tuhan
Setiap malam?
Setiap mereka menghadap Tuhan?
Ya,

Topeng

Kebahagiaan

Mereka yang tak menjadi mereka mencoba menerka
Mereka yang tak menjadi mereka, menyaksikan penjualn topeng
Dimana? Mereka yang tak menjadi mereka ingin membelinya? Atau
sekadar meminjam?
Mereka yang tak menjadi mereka ingin kebahgiaan

Bukan topeng

Bukan topeng kebahagiaan

Mereka mengapa mengenakan topeng?
Kebahagiaan, untuk kebahagiaan

Topeng

*Saya pun menulis ini sambil mengenakan topeng

Wednesday, January 11, 2012

Kalut

Pagi, siang, malam, entahlah ia bisa saja datang
seperti hari kemarin
Adakah maksud teretentu? Tidak
Ia ingin berbagi
Apa? Apa? Apa?
Rindu...
Penyesalan...

Aku hanya tersenyum
Miris, setelah enam bulan kah kau baru menyadarinya?
Setelah aku sudah membuka lembaran baru di kehidupan ku?
Terlambat!

Tak tahu lah.....
Aku malah menangis seketika dalam hati
Kau tak berubah
Kau kini menyakiti wanita mu
Kasihan...

Mata mu membengkak, hei
Apa yang kau tangisi?
Ingin kembali?
Tidak kan?
Berikan sinar mata indah mu untuk wanita mu itu
dan berbahagialah kalian



Saturday, November 26, 2011

Selamat Tinggal?

Aku benci ketika harus kehilangan seseorang sehingga terkadang aku takut dengan sebuah pertemuan. Apa pun bentuk pertemuan itu. Kenapa pertemuan selalu bergandengan dengan perpisahan? Entahlah mungkin sudah jalan Tuhan. Bagaimana Tuhan mengatur orang-orang tersebut sehingga menjadikan kenyamanan bagi yang di sekitarnya. Bagaimana Tuhan menjadikan orang-orang tersebut penuh kesyukuran sekali pun ada dalam suatu lara, lara milik orang lain. Orang-orang baik. Apa yang bisa aku balas dari sedemikian kesantunan mereka? Selain merelakan mereka ketika mereka pergi? Benar-benar pergi kah? Sedikit waktu ku dengan mereka untuk menikmati pagi penuh dengan gairah, menjalani siang tanpa keluhan, menatap senja dengan keindahan, melewatkan malam tanpa kesunyian, dan yang terpenting adalah mengagungkan Tuhan di sepertiga malam dengan penuh kekhusyukan. Singkat sekali, kemudian mereka pergi. Ada banyak hal yang tak pernah aku tahu....banyak! Hal-hal itu lah alasan mereka untuk pergi. Apa? Entah. Tetapi terimakasih untuk mereka yang mengajari aku banyak hal. Senang sekali bisa bertemu mereka, orang-orang baik :)

Friday, November 18, 2011

Hitam Putih

Mereka tenggelam dalam suara gemuruh
Mengalir seperti air
Lalu tawa canda bersahutan
Ada apa?

Ku tutup telinga ku
Hati ini hancur sudah
Mereka terus saja bergema tanpa titik atau koma
Bukan tak mau berbaur, namun penat tak terkalahkan

Aku bosan
Melihat sayatan dalam putih
Aku gempar
Menjadi abu dalam hitam
Aku,
Mati

Tuesday, November 8, 2011

Asam

Dan tidak hanya sebagian dari diri ku telah hilang
Kalau memang ada sikap yg lebih baik, knp tidak?
Lebih dari hati ku hancur
Lebih dari fikiran ku kacau
Tp kamu tidak,ya?
Keparat
Sama liciknya dengan perempuan itu
Oh ya, apa kabar dya?
Mengumpat di ketiak mu ya pasti
Ah mukanya memang asam kecut
Tak bisa kau cari yg lbh jelita dari aku,hah?
Brengsek

Tuesday, October 25, 2011

pria basa basi

Ada segelintir luka yang tertinggal
Setara dengan ukuran kenangan
Kemana harus ku bawa?
Dimana sang penanggung?
oh, dia mati dalam hati

Matilah semati-matinya
Pergilah sesuka langkahnya
Menoleh ia menengok raga tak ada
Pecundang

Tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia datang
Ah aku tak pernah mengundangnya!
Bahkan dibawanya pilu yang ada padanya
Ah aku tak mau berbagi lagi dengannya!

Ia tak tahu itu
Ia tak tahu tentang segelintir luka lama
Ia justru melirih

Saturday, August 20, 2011

Senja Agra

Di tengah keramaian orang
Aku hanya mencari satu
Kamu
Kamu yang hilang dimasa lalu

Aku pulang
Aku datang
Bukan dengan tangis kali ini
Senyuman yang akan ku berikan, untuk mu, untuk kalian

Aku mencari untuk mencari kebahagiaan
Aku mencari untuk berjabat tangan
Aku mencari untuk menebar binar mata

Sembunyikah kalian? di balik sikap manismu, pria tanpa nyali?
atau di balik bedong putih mu, wanita tak berhati nurani?

Sungguh aku hanya ingin mengucapkan 'selamat'
Selamat atas pilihanmu
Selamat atas terpilihnya dya
Terimakasih telah menjadikan ku lebih kuat dan menjadikanku lebih hebat